Sabtu, 13 Januari 2018
Rabu, 06 September 2017
Dari Nguji Skripsi 2017
"JAGO DALAM RUNNING SOFTWARE LEMAH DALAM JABARAN TEORI DAN JELEK DALAM BAHASA TULISAN"
Pada tahun ini masih kebagiabn untuk menguji dua kelompok mahasiswa atau taruna/i stmkg, Kali ini kesan yang diperoleh sehabis menguji:
- Karena menguji skripsi merupakan kelanjutan dari ujian proposal yang lalu, setelah diadakan perbaikan oleh para taruna/i maka yang perlu disorot hanyalah hasil pengolahan datan dan anapisisnya.
- Dari pengolahan datan, yang umumnya mereka menggunakan program atau paket program orang lain yang usdah run digunakan menganalisis data penelitian di tempat lain maka secara umum mereka hanya menggunakan program jadi, sehingga pilosophi program kurang mereka ketahui.
- Hasil mereka patut diacungi jempol, mereka sudah lihai memproses data dengan software, komputer yang umumnya mereka menggunakan laptop.
- Namun dengan kekurangan dalam menguasai pilosophi software, lemah dalam teori basik, dan keengganan atau kurang waktu membaca referensi menjadikan logika berfikir mereka dalam menyusun silogisme atau sintesa teori yang mengalir menjadi hipotesa masih sangat jauh.
- Dampaklainnya menjadikan lemah dalam pembahasan hasil dan interpretasi terlebih bila dikaitkan dengan fenomena atau variabel yang berhubungan di luar kontek penelitian mereka cenderung tidak bisa menjawab.
- Hal yang mendasar lagi adalah yang harus disadari bahwa menulis ilmiah hasil penelitian adalah merupakan gabungan 'sain danart' maka dengan lemahnya bahasa tlisan mereka menjadikannya, tulisan menjadi kaku dan kalimatnya pendek-pendek.
- Untuk para taruna/i yang baru habis skripsi hendaknya kalian : mengasah terus dengan membaca lebih banyak referensi yang akan digunakan dalam menulis ilmiah sehingga tidak ada kesan copy paste dari tulisan senior kalian, serta belajar menyusun kalimat dan menyusun bahasa indonesia dengan baik dan benar.
- Bagi kalian yang baru selesai skripsi dan lulus selamat atas kelulusannya, segera lakukan revisi sesuai masukan penguji dan pembimbing hingga beban kalian segera tuntas untuk sementara.
- Sekali lagi selamat untuk Sarjana Terapannya.
Pondok Betung, 7 September 2017
Rabu, 09 Agustus 2017
Tentang Karakteristik Penelitian Ilmiah
kharakteristik penelitian ilmiah, sangat berbeda-beda antara penulis yang satu dengan yang lainnya, namun sexara singkat dapat dikatakan ada 8 karakter penelitian ilmiah seperti berikit.
Kharakteristik Penelitian ilmiah
yaitu: :
1. Purposive : Memiliki tujuan atau maksud tertentu
2. Rigor : Dilakukan dengan cermat, teliti, dan memiliki tingkat
keakuratan tertentu
3. Testability : Memiliki
dugaan atau hipotesis tertentu dan dapat diuji menggunakan ilmu yang
berkaitan serta ilmu statistika (untuk data yang terkumpul, baik berjenis
kualitatif maupun kuantitatif)
4. Replicability :Kesimpulan atau penemuan hasil penelitian memiliki sifat
stabil. Maksudnya, hasil penelitian akan memiliki kesimpulan yang sama apabila
dilakukan oleh peneliti lain dengan menggunakan metode yang sama.
5. Precision and Confidence : Dapat menunjukan seberapa besar :
- keakuratan penelitian
- peluang bahwa taksiran peneliti adalah benar
Kedua poin diatas dapat dilakukan
dengan mengaplikasikan ilmu statistika dalam penelitian.
6. Objectivity :Kesimpulan penelitian harus berdasarkan fakta yang
dihasilkan dari temuan data aktual, dan bukan berdasarkan subjektifitas atau
emosional peneliti.
7. Generalizebility : Hasil penelitian dapat diterapkan seluas mungkin, semakin
besar ruang lingkup penerapan hasil penelitian maka akan semakin baik.
8. Parsimony :Memiliki prinsip kesederhanaan dalam menjelaskan : masalah
penelitian, dan alur penelitian
Puri Gading Jimbaran Bali
Jumat, 04 Agustus 2017
Sekilas Banjir Jayapura, 3 Agustus 2017
FAKTOR UTAMA DALAM BANJIR DI
SEKITAR JAYAPURA
Oleh : I Putu Pudja
Kamis, 3 Agustus 2017 lalu
dilanda banjir, dengan konsentrasi banjir di daerah Entrop, daerah Perkantoran
Otonom Kotaraja, dan daerah Komplek Perumahan Organda. Mengingatkan penulis
akan nyamannya kota Jayapura, dimana penulis pernah bermukim sepanjang periode
1991 – 2000. Ketika itu dapat dikatakan belum pernah mendengar kata banjir,
paling ada genangan air liar di jalan raya selama hujan lebat, karena saluran
tertutup oleh sampah, atau pohon yang tumbang.
Banjir kali ini menurut informasi
dari Kantor BMKG Wilayah V Jayapura, karena adanya hujan lebat yang cukup lama
lebih dari 4 jam sekak pl 03 00 pagi, sehingga volume air permukaan menjadi
meningkat. Kejadian itu terjadi karena berkembangnya daerah tekanan rendah yang
menjadi pumpunan angin kaya uap air di perairan utara Papua. Konsentrasi awan
sampai di atas wilayah Jayapura sehingga hujan menjadi lebat dan lama.
Ditinjau dari topografi Jayapura
yang bergunung dan berbukit di tepian laut, seharusnya banjir susah terjadi
karena aliran air akan segera ke laut. Sehingga pasti ada yang salah dengan
pembangunan di daerah itu. Yang menyebabkan air sulit mengalir ke daerah lepas
yaitu laut.
Kota Jayapura tidak beda dengan
kota kota lainnya di Indonesia. Terlebih setelah terjadi pemekaran wilayah,
mudahnya transportasi ke sana menjadikannya sebagai kota urban, untuk
mendapatkan pekerjaan baik sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai
negeri.
Semuanya itu membawa konskuensi
kebutuhan pemukiman, kebutuhan perkantoran, kebutuhan sentra sentra
perekonomian, sehingga pusat perkantoran, pusat pertokoan, kawasan pemukiman
baru semakin marak berdiri disana.
Bila memperhatikan ketiga daerah
banjir di Jayapura semuanya merupakan daerah pengembangan baru, yang dulunya
merupakan daerah aliran air dan daerah terminasi air, sebagai rawa ataupun
daerah rendah, yang sebelumnya dihindari oleh masyarakat. Daerah Entrop
sebelumnya merupakan daerah rawa, daerah payau bertemunya air tawar dari
permukaan dengan air laut Teluk Jayapura; Kawasan Perkantoran Otonom dulunya
sebagai rawa dengan hutan sagu sebagai lumbung ‘padi’ nya masharakat setempat,
sebagai daerah terminasi air yang mengalir turun dari pegunungan cyclop lereng
selatan menuju laut, dan Perumahan Organda dulunya merupakan daerah rendah
sebagai tempa lalu dan terserapnya air permukaan karena daerahnya merupakan
sedimen, yang mudah menyerap air dan sebagian merupakan rawa.
Di ketiga lokasi banjir itu telah
terjadi pergeseran peruntukan lahan. Serapan, lahan airan menjadi daerah
pemukiman, perkantoran maupun sentra perekonomian. Bahkan fungsi sarana aliran
air pun dilupakan oleh oengembang, yang menguruk daerah tersebut dalam
pengembangannnya. Perubahan ini menyulitkan penyerapan dan pengaliran air ke
laut, terlebih setelah ditutupi dengan beton atau jalan aspal.
Dalam kondisi cuaca ektrim, hujan
lebat yang berkepanjangan menjadikannya air permukaan yang berlebih sulit
mencari pelepasan laut bebas. Jangankan sampai laut bebas, daerah alirannyapun
cenderung sudah diuruk ditinggikan, sehinga potensial air dalam alirannya menjadi
berhenti di daerah tersebut sebagai cikal bakal banjir.
Satu-satunya jalan untuk
mengantisipasi banjir berikutnya mengingat susahnya lahan di Jayapura untu
daerah yang rendah, perlu dalam pengembangan drainase juga harus tetap
dipikirkan dengan volume tampungan yang tidak berbeda dengan kemampuan aliran
sebelum dikembangkan. Dibuatkan jalan air menuju laut.
Karena memang upaya ini sangat
mahal, sehingga peran Pemerintah Daerah untuk bersinergi mengembangkan wilayah
sangat diperlukan. Hal itu menurut penulis bisa dilakukan oleh pemda Papua,
dalam menjaga kelestarian Papua, dan mengindarkan penduduknya dari ancaman
banjir.
Bintaro, 5 Agustus 2017
Senin, 29 Mei 2017
Pemberitahuan-UTS
Bagi anak-anak stmkg Mata Kuliah Fisika-2, Fisika Batuan, Metode Penulisan Ilmiah dan Bencana Alam Kebumuan, UTS di lakukan pada minggu ke 2 minggu-minggu UTS sesuai dengan jadwal kuliah.
Selamat UTS. Terima kasih. dan Selamat Belajar.
Selamat UTS. Terima kasih. dan Selamat Belajar.
Senin, 17 April 2017
Berakhirnya Periode Senyap Seismik
“GEMPA-GEMPA
BALI DAN BERAKHIRNYA PERIODE SENYAP SEISMIK”
Oleh
: I Putu Pudja.
Masyarakat Bali Selatan belakangan ini, semakin
sering merasakan getaran gempabumi, dengan intensitas yang bervariasi. Terakhir
gempabumi dengan kekuatan 3,5 SR yang dirasakan
walau tidak cukup keras adalah: 1) gempabumi hari Sabtu, 8 April 2017 dinihari, pk 02 32 00 WITA. Dengan posisi pusat gempa pada 9,46 LS –
117,23 BT pada kedalaman 25 km, posisi sekitar 69 km tenggara Sumbawa Barat.
Dua gempa sebelumnya adalah Gempabumi pada : 2). Pada 22 Maret 2017, pk 07 10
27 WITA, dengankekuatan M = 6,4 SR pusat genpa pada : 8,88 LS – 115,24 BT,
sekitar 23 km tenggara Denpasar. Pada kedalaman 117 km. Getaran gempa ini
terasakan dari Lombok, Bali Selatan sampai Malang, pada kisaran III – IV Skala MMI;3). Pada 6 April 2017, pk 13 44 12
WITA. Gempa dengan kekuatan M=4,4 SR dengan pusat gempabumi pada 9,26 LS –
115,49 BT pada kedalaman 76 km. Posisi ini sekitaran 59 km barat daya
Kelungkung. Dirasakan II – III Skala MMI.
Bila kita perhatikan ketiga gempa itu merupakan
gempabumi yang berpusat di laut selatan Bali. Ini menunjukkan bahwa daerah Bali
yang masi eksis sebagai daerah yang rawan terhadap ancaman gempabumi, dari
daerah sumber gempa yang kita kenal sebagai zone subdaksi pertemuan antara
lempeng tektonik Indo-Australia yang menyusup sebagai lempeng samudera, kebawah
lempeng tektonik Eurasia sebagai lempeng kontinen.
Kejadian ini sangat menarik bila dilihat dari
perkembangan seismisitas daerah sepanjang selatan Jatim – Sumbawa. Apakah
kondisi ini membahayakan ataukah menguntungkan Bali dari segi dampak gempabumi
yang mungkin terjadi di daerah ini, mengingat di sepanjang daerah ini mempunyai
sejarah kegempaan yang unik, pernah terjadi gempa besar dan juga pernah terjadi
gempa disertai tsunami: gempa Sumbawa dan Gempa Banyuwangi.
DAERAH
SENYAP SEISMIK
Para seismolog sudah sejak lama memperhatikan
daerah aktip gempabumi sepanjang selatan Jawa Timur – Sumbawa. Karena didaerah
ini sudah cukup lama lebih dari 25 tahun setelah gempa dan tsunami Banyuwangi
belum pernah terjadi gempabumi besar, sehingga daerah ini ditandai dengan
daerah ‘seismic gap’ atau daerah senyap seismic. Beberapa teori menengarai
untuk daerah yang demikian terjadi penumpukan energi gempa di daerah tersebut
yang akan siap di lepas di kemudian hari. Semakin lama senyap seismic ini
secara teoritis akan semakin lama menumpuk energi sehingga energi gempa yang
diperkirakan akan terjadi akan semakin besar.
Daerah yang demikian bisa kita lihat pada peta
seismisitas merupakan daerah yang kosong dengan pusat gempa. Dengan seringnya
terjadi gempabumi khususnya pada segmen selatan Bali, dari teori akumulasi
energi sangat menguntungkan. Karena energi yang terkumpul dilepaskan secara
perlahan, waktu demi waktu yang menjadikan akumulasi energinya tidak mencapai
tinggi sekali.
Sehingga daerah Bali sebenarnya diuntungkan
dengan seringnya gempa yang terasakan masyarakat, yang menunjukkan daerah
senyap seismic telah menunjukkan aktifitasnya, dan melepas energi dengan
mencicil.
Bila memperhatikan kekuatan gempa yang terjadi
antara 2,5=<M=< 6,4 Skala Richter menunjukkan bahwa akibat penumpukan
energi di daerah pusat gempa telah terjadi retakan-retakan batuan kulit bumi.
Semakin banyak retakannya akan semakin sering melepas energi dengan energi yang
sangat variatif. Konversi energi ini kita kenal dalam informasi gempabumi
sebagai kekuatan atau magnitude gempa yang diberi satuan Skala Richter.
Demikian juga kedalaman gempabumi yang terjadi
terlihat bervariasi antara 25km =<h=<117 km menunjukkan bahwa akumulasi
energi terjadi tidak pada suatu volum batuan yang focus, tetapi terjadi pada
volum yang sangat luas, sehingga energi yang terakumulasi dapat dikatakan
tidaklah terpusat pada satu volum yang focus sehingga akumulasi yang tinggi
nergi gempa itu terhindari terjadi.
Kejadian ini memberikan indicator kepada kita
bahwa penumpukan energi terjadi secara menyebar sehingg gempabumi yang
dikhawatirkan para pakar dapat terjadi antara M = 7 – 8 SR semakin kecil
kemungkinan terjadinya.
CIRI GEMPA
MENENGAH
Mungkin banyak dari sidang pembaca yang
mempertanyakan kenapa gempa yang ke 2 di atas dapat mengguncangkan daerah yang
sangat luas, dari Lombok hingg Malang dan sepanjang pantai selatan Bali, sama
dengan pertanyaan beberapa teman penulis. Hal ini terjadi karena pusat gempa
dari gempa yang kedua relative lebih dalam, masuk kategori gempa dengan
kedalaman menengah. Getaran gelombang gempa yang biasa disebut dengan gelombang
seismic mempunyai sifat semakin dalam pusat kejadiannya, dia akan memiliki sifat
penetrasi yang lebih luas, dan energi gelombang badannya menjadi lebih besar
dibadingkan dengan gempa dangkal.
Ingat gempabumi yang terjadi di pantai utara
Inramayu dengan kedalaman lebih dari 600 km, walau kekuatannya seperti gempa
yang kedaua diatas, getarannya dirasakan dampai kota-kota : sepanjang pantura
Jawa, Batam, Singapura dan Kualalumpur di barat dan sampai dirasaraskan di
Denpasar dan Mataram di sebelah timur.
Gempa dengan kedalaman dalam memang mengguncang
dan dirasakan getarannya sampai jarak yang kauh, tapi tingkat pengrusakannya
kecil. Beda dengan gempa dangkal yang getarannya umumnya dirasakan di daerah
yang tidak begitu luas akan tetapi sifatnya sangat merusak.
Semakin banyak pertanyan dari masyarakat, dan
semakin banyaknya masyarakat melaporkan merasakan gempabumi (walau kekuatannya
kecil, seperti gempa 6 April 2017 ini, menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya
masyarakat Bali mempunyai kesiap siagaan yang tinggi terhadap bencana
gempabumi. Ini perlu di jaga dan dipupuk selalu, karena kita hidup di daerah
yang rawan terhadap gempabumi.
Dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa: gempabumi yang dirasakan sering terjadi oleh masyarakat
merupakan akhir dari periode senyap seismic. Seringnya gempa terjadi
mengindikasikan bahwa energi gempa di daerah ini di lepas perlahan, tidak
terfokus suatu tempat terlihat dari posisi pusat gempanya. Semuanya merupakan
kondisi yang menguntungkan ditinjau dari proses pelepasan energi gempabumi.
Penulis : Dosen pada Sekolah Tinggi
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Tangsel.
Telah dimuat di Bali Post, 17 April 2017, pada Opini hal.6





