Sawah di sekitar Larantuka

Salah satu sudut jalan transflores yang menghubungkan antara Maumere dan Larantuka

Pantai Larantuka

Salah satu pesisir pantai di kota Larantuka

Danau Tiga Warna Kelimutu

Danau tiga warna terdapat di kabupaten Ende, Flores.

Labuan Bajo

Salah satu spot menarik di Labuan Bajo, Manggarai, FLores.

Tari Hegong

Tarian Tradisional dari Maumere, Flores, untuk penyambutan tamu.

Tampilkan postingan dengan label Diklat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diklat. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Maret 2013

ACUAN PEMBUATAN PROPOSAL PENELITIAN PROPOSAL PENELITIAN

Materi Metodologi Penelitian Tahun 2013


AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
MATA KULIAH SEMINAR
DIBERIKAN PADA SEMESTER IV
Dosen Pengampu Dr I Putu Pudja

Acuan pembuatan proposal penelitian
PROPOSAL PENELITIAN

Penelitian  disini adalah penelitian yang ermaksud mengungkapkan.suatu fenomena atau gejala secara komperehensif,  kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan teori atau hasil penelitian peneliti sebelumnya sebagai acuan. Kunci utama disini adalah peneliti itu sendiri. Penelitian bisa merupakan penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif.

 Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan umumnya melakukan analisis dengan pendekatan induktif.  Penelitian kualitatif mengutamakan proses, dan makna. Laporan penelitian kualitatif lebih banyak merupakan narasi, laporan, sehingga sangat diperlukan kreatifitas peneliti dalam menarik kesimpulan secara induktif, kepiawaiannya dalam mengingkapkan hasil penelitian dengan laporan yang kontekstual, otentisitas dan natural / alami.
            Penelitian yang terkait dengan penelitian geofisika umumnya cenderrung merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan data skunder, karena sedemikian sempitnya waktu penelitian hanya berlangsung satu semester. Persiapan proposal penelitian yang diampu pada mata kuliah seminar, sejatinya hanya merupakan seminar untuk proposal penelitian yang akan dilakukan pada semester berikutnya.

Mata Kuliah seminar diverikan pada sementer V dan mata kuliah penelitian dengan nama mata kuliah Tugas Akhir merupakan mata kuliah penelitian sebagai lanjutan dari persiapan yang telah diseminarkan pada semester sebelumnya. Dengan demikian pada mata kuliah seminar hanya dilakukan pembuatan proposal penelitian dari Bab I hingga bab III.
 
Proposal Penelitian Kualitatif

Proposal penelitian umumnya berisikan hanya tiga bab, yaitu: Bab I sebagai Pendahuluan, yang memuat latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian; Bab II berisikan Teori Pendukung, yang memuat berbagai teori yang mampu mendukung mengungkap fenomena atau masalah yang diteliti, dan Bab III, Meodologi Penelitian, yang berisikan penjelasan jenis penelitian yang diambil secara umum, lokasi dan waktu penelitian, metode pengambilan data, cara analisis data, algoritma kerja dalam analaisis data atau tahapan penelitian. Pengujian keabsahan data maupun hasil penelitian.


1.      Bab I Pendahuluan:

a.       Latar Belakang
Latar belakang berisikan fenomena, gejala yang melatarbelakangi mengapa penelitian ini dilakukan. Apa maksud penelitian ini, apa yang ingin dicapai dalam penelitian ini, serta penelitian sebelumnya untuk objek serupa yang ingin diungkap lebih lanjut, atau diungkap sisi lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang menjadikan penelitian sebelumnya lebih sempurna, atau menjadi lebih luas ungkapannya.
Dalam penelitian geofisika pada latar belakang ini dieksplorasi latar belakang, tektonik, geologi, seismic serta hal-hal lain yang melatarbelakangi penelitian. Biasanya cara narasinya diamabil dari umum, terus ke hal yang spesifik yang akan di teliti.
b.      Rumusan Masalah
Uraian yang diungkapkan dalam latar belakang yang terdiri dani masalah, kemudian diambil  setelah difilter untuk diambil hal-hal yang menarik peneliti, untuk memfokuskan penelitiannya pada beberapa amsalah saja, karena penelitian sangat dibatasi oleh waktu, biaya dan lain-lainnya .
Pada intinya adalah mengidentifikasi semua masalah yang terkait dengan penelitian, kemudian difokuskan pada beberapa masalah yang ingin di teliti, sebagai tahapan pembatasan masalah yang akan diteliti.
Fokus penelitian memuat sari rincian pernyataan terkait dengan topik-topik pokok yang akan diungkap dalam penelitian ini. Rumusan masalah, diambil adari fokus penelitian yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang akan dicari jawabannya dalam penelitian. Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu mengetahui apa yang akan diungkapkan di lapangan sebagai hasil penelitian nantinya. Pertanyaan-pertanyaan ini harus didukung oleh argumentasi yang kuat, mengapa pertanyaan ytersebut yang dipilih. Untuk itu diperlukan penelitian pendahuluan sebagai prestudi.
 Argumentasinya harus bersifat : jelas, komperehensif, mengandung logika induktif, alami, dekat dengan fenomena yang diteliti.  Pembuatan alas an ini akan membantu pembimbing membaca jalan pikiran peneliti untuk penelitian yang akan dilakukan.
     
c.       Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan. Isinya akan sangat terkait dengan hal-hal yang diungkap pada latar belakang dan perumusan masalah.
d.      Kegunaan Penelitian

   Kegunaan kelihatannya tidak selalau menjadi sebuah sub bab, namun sering juga sudah terungkap dalam latar belakang penelitian sehingga tidak perlu di buat pada satu sub bab tertentu, karena akan cenderung mengulangi paragraph yang sama secara berulang. Bagian ini menunjukkan .

  Pada subbagian ini diungkapkan seberapa jauh kegunaan penelitian yang dilakukan sehingga penting untuk diteliti, baik dalam arti yang luas maupun dalam arti yang sempit. Pada subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Dari  sub bagian ini diharapkan dapat dikemukakan bahwa penelitian terhadap fenomena, masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.

Banyak juga dalam proposal disinggung sistematika proposal, maupun rencana penelitian disertakan. Dalam system,atika diuraikan secara ringkas struktur isi dari penelitian / laporan penelitian yang akan di buat.


  2. Bab II Teori Pendukung.
         Latar belakang dan perumusan masalah akan menuntun kita pada kebutuhan teori yang akan dijadikan landasan berfikir, maupun mendukung penelitian ini. Landasan teori secara umum diambil dari : buku-buku tekx book, jurnal terkait, hasil penelitian sejenis sebelumnya.
Teori pendukung ini diperlukan sebagai  pemandu penelitian agar tetap focus dan tidak menyimpang dari tujuan semula. Landasan teori juga akan berguba dalam  memberikan gambaran umum tentang latar penelitian. JUga akan digunakan dasar dalam melakukan diskusi atau pembahasan hasil penelitian nantinya. Umumnya akan terdapat perbedaan mendasar antara kegunaan  landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif.
Pada penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.  Jadi disini landasan teori digunakan untuk mendikripsikan data sehingga akan ditemukan teori baru sebagai temuan hasil penelitian, maupun implikasinya terhadap teori sebelumnya maupun terhadap masalah atau fenomena yang diteliti.
Pada penelitian geofisika, yang merupakan penerapan fisika pada kejadian-kejadian di bumi, sehingga sebaiknya teori diawali dengan proses fisika yang menjadi dasar dari proses geofisika yang akan di teliti, sehingga prosesnya dalam penguraiannya di awali dari proses umum yang terjadi di fisika, kemudian dipersempit dalam masalah geofisika sebagai terapannya dalam fenomena bumi. Serta dipi;ih yang paling spesifik untuk menguji hipotesa maupun masalah yang akan diselesaikan atau dicari jawabannya.
 Bab III.   Metode Penelitian
Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian. 

a.      Jenis Penelitian

Para peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik, yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, ekologis, partisipatoris, penelitian tindakan, atau penelitian kelas.

b.  Kehadiran Peneliti

Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan peralatan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. Terrlebih untuk penelitian dalam pengambilan data primer in situ di lokasi penelitian.

Kehadiran peneliti ini harus dilaporkan  secara eksplisit dalam laporan penelitian. Disini  dijelaskan  peran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan.

Bila perlu kehadiran penelitian ke lokasi disyahkan oleh petugas terkait setempat, sebagai pertanggung jawaban kebenaran data. Mengingat dalam penelitian sangat diperlukan kejujuran seorang peneliti.

c.       Lokasi Penelitian

Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas, misalnya letak geografis, bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi), struktur organisasi, program, dan suasana sehari-hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dengan pemilihan lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti, peneliti pernah bekerja di situ, atau peneliti telah mengenal orang-orang kunci.

Dengan pertimbangan keterbatasan waktu lokasi objek penelitian geofisika dilakukan dengan berbagai pertimbangan terutama : peminatan terhadap lokasi tersebut; ketersediaan data; kecukupan literature pendukung teori; penelitian sebelumnya, atau atas pertimbangan lain yang lebih spesifik. Akan tetapi karena mata kuliah seminar dengan membuat proposal penelitian dan diseminarkan; serta kuliah Tugas Akhir sebagai laporan hasil pene;itian, berfokus [ada proses pembelajaran siswa, maka pemakaian data skunder lebih dianjurkan.
‘ 
d.      Sumber Data

Pada bagian ini dilaporkan jenis data, sumber data, da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan, bagaimana karakteristiknya, siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian, bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu, dan dengan cara bagaimana data dijaring, sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju.

Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin, bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi, subjek, informan, dan waktu.

Penelitian geofisika lebih banyak mengambil sumber data adalah instansi sendiri yaitu BMKG atau instansi sejenis yang mempunyai data skunder yang cukup untuk melaksanakan penelitian.

e.      Prosedur Pengumpulan Data

Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi, sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.

Sebagian prosedur tersebut yang digunakan dalam pengumpulan data geofisika, sifatnya hanya merupakan keterangan komplementer yang melengkapi keterangan data yang ada. Biasanya dari para pegwai atau senior yang memang bertugas mengumpulkan data tersebut, menganalisis data tersebut maupun yang mengumpulkan langsung di lapangan data tersebut.

f.        Analisis Data

Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.

Pada penelitian geofisika dianjurkan sebelum melakukan analisis data, peneliti untuk menguraikan komponen komponen yang menjadi bagian dari data. Misalnya data pusat gempabumi, ( x,y,Z) x sebagai bujur, umumnya bujur timurdalam derajat bujur ; y sebagai lintang , apakah lintang utara atau selatan dalam derajat lintang ; z sebagai kedalaman gempabumi dalam kilometer. Dan seterusnya untuk magnitude, apakah digunakan magnitude gelombang badan atau gelombang permukaan, ataupun magnitude durasi getaran.

g.      Pengecekan Keabsahan Temuan

Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain, kesalingtergantungan pada konteksnya, dan kemungkinan dikonfirmasikan kepada sumbernya..

i.        Tahap-tahap Penelitian

Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan. Sebagai rancangan yang akan dilakukan selama penelitian yang direncanakan

Daftar Rujukan
Bahan rujukan dari literature pendukung, maupun literature terkaitdi daftar pada Daftar Referensi, ataupun di catat pada catatan kaki, dengan menggunakan cara cara yang lajim digunakan pada Akademi Meteorologi dan Geofisika.
Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:
1.       nama penulis , lengkap dengan gelar akademiknya;
2.       tahun  penerbitan
3.    judul;
4.    kota tempat penerbitan, dan
5.    nama penerbit.
Bukit  Jimbaran, 11 Maret 2013

Jumat, 23 Maret 2012

MARI MEMANDANG NYEPI DARI SALAH SATU SUDUT PANDANG Oleh : I Putu Pudja

Nyepi sebagai Bentuk Implementasi Tri Hita Karana
Nyepi, bukanlah suatu rutinitas yang datangnya setahun sekali. Nyepi merupakan kontemplasi jiwa, di keheningan menuju pencerahan, menyongsing kasih karunia Ida Sang Hyang Widhi.  Sebagai pelatihan untuk selalu menuju yang esa, Manunggaling Kawula Lan Gusti, sebagai tujuan hidup manusia yang paling luhur.
Nyepi mengandung makna, perbaikan keseimbangan hidup. Menyeimbangkan hubungan yang serasi kepada Ida Sang Hyang Widhi, menyeimbangkan hubungan serasi sesame manusia, serta menyeimbangkan diri dengan alam lingkungan, sebagai perwujudan dan implementasi bahwa Ida Sang Hyang Widi merakhmati se,ua ciptaannya, sehingga kita manusia wajib pula melakukan hal itu.
Proses ini oleh masyarakat Bali disebut Tri Hita Karana. Semua proses ini terlihat pada prosesi Nyepi, yang diawali dengan melasti sebagai sarana pembersihan diri dan alam semesta secara spiritual, butta yadnya pengerupukan dengan mecaru sebagai perwujudan keseimbangan dan keselarasan hidup manusia dengan lingkungan, alam itu sendiri,  catur brata penyepian sebagai sarana mawas diri terhadap apa yang telah diolakukan minimal setahun terakhir, menyatukan diri dan ‘nunas’ berkah dan karunia Ida Sang Hyang Widi di hari yang baik ini.
Nyepi berarti kembali ke kosong, agrometer nol dalam kesucian lahir bathin. Kosong sebagai asal mula alam dunia ini sebagai sunya, sunyi, sunia. Sebagai makna dari ekawara ngaran luwang. Dan proses terakhir adalah ngembak geni sebagai proses penyelarasan diri dengan sesame umat, karena secara sadar dalam kehidupan ini setiap orang pasti pernah berbuat salah terhadap yang lainnya, sehingga perlu saling memaafkan. 
Semua ini berdasarkan keikhlasan, dimana rumusan sederhana Ilmu Ikhlas itu sebagai berikut :
Ikhlas + Ikhlas = Berkah ,
yang dapat kita terjemahhkan dalam hubungan hidup sebagai keokhlasan yang member, keikhlasan yang menerima, astungkara akan menjadi berkah untuk keduanya. Hendaknya demikian pula dalam kita membangun kontempelasi keseimbangan hidup yang memaknai Tri Hita Karana.
Makna Catur Brata
Dalam melaksanakan nyepi, kita melakukan catur brata penyepian, yaitu : Mati Geni, Mati Karya, Mati Lelanguan, dan Mati Lelungaan. Disini mati berarti terminal, diam, tidak. Mati Geni tidak menyalakan api, merupakan simbul penciptaan kesunyian, kesiap siagaan, sehingga kita dapat berada pada suasana hening, senyap dengan minilam sinar (api), mati geni juga berarti tidak memasak, yang berarti nyepi perlu persiapan, minimal persiapan makanan sehari sebelumnya, menyiapkan makanan yang tidak basi untuk sehari dan tidak memerlikan pemanasan. Ingat bahwa pada awaknya nyepi tidak disertai frngan puasa. Baru belakangan ini setelah banyak paka pakar agama lulusan India yang mengamalkan ilmunya di tanah air. Sehingga mati geni bermakna luas, keheningan, kesunyian, oersiapan hingga pengekangan hawa napsu yang juga berarti unsure api dalam diri.
Mati karya, berarti : tidak melakukan pekerjaan sehari penuh pada sat hari nyepi. Tujuannya agar kita dapat melakukan kontempelasi diri dengan baik, tidak diganggu dengan pekerjaan rutin sehari-hari. JUga merupakan kesempatan untuk bersama sama melakukan kontempelasi berjamaah di dalam rumah bersama keluarga. Menyatukan diri dengan diri sendiri – atma- , Ida Sang Hyang Widi, serta dengan alam semesta yang sangat kelelahan telah menyapkan manusia bahan kehidupan.
Agas kedua Mati tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka kita sangat mengurangi kegiatan yang mengganggu kontempelasi, sehingga tidak melakukan kegiatan yang jauh dari rumah, sehingga kita todak bisa bepergia, sebagai wujud mati lelungaan. Demikian pula tidak banyak waktu untuk melakukan perawatan diri, bersolek, sehingga wangi, sebagai wujud dari mati lelanguan. Jadi kita diharapkan dapat mengoptimalkan kelima indera kita merenungkan, meikmati keheningan nyepi, tidak terganggu oleh wewangian –lelanguan-, yang dapat mengganggu konsentrai kita melakukan nyepi.
Recovery kualitas udara dan nilai ekonomis.
Dari segi perubahan iklim dan pemansasn global, pemberhentian kegiatan sehari semua kendaraan, tidak menyalakan api, tidak bepergian, maupun tidak melakukan kerja, merupakan saat yang tepat untuk mengistirahatkan atmosfer kita menyerap polutan, sehingga dalam sehari apalagi saat musim hujan Maret, nyepi sangat membantu mengendapkan polutanh yang mengambang di udara, kualitas udara menjadi terbarujan, sehingg tak salah bila beberapa facebooker mengatakan saat nyepi bernafaslah panjang-panjang karena udara bersih, recoveri polutan dalam paru-paru dengan udara bersih.
Nyepi disini dapat berfungsi sebagai recovery udara di atmosfer, walau hanya sehari. Sebagai konsep menjaga keseimbangan antara umat manusia dengan alam semesta, dengan menyadari manusia dan alam semesta ini bersama-sama sebagai ciptaan TUhan, Ida Sang Hyang Widhi yang terus menerima rakhmatnya.
Dari segi ekonomis, bisa dihitung berapa biaya yang dihemat saat nyepi dengan tidak adanya kendaraan bermotor, pabrik dll yang berhenti mengkonsumsi bahan bakar minyak –BBM-, sehingga tidak lah salah bila Bupati (Badung) saat COP-UNFCC di bali mengusulkan kalau konsep nyepi dapat diadopsi untuk dilakukan secara universal untuk ikut mengendalikan polusi. Minimal memberikan bumi dan atmosfer ini beristirahat untuk menyerap polutan dan gas rumah kaca, sehingga secara rutin dapat menyedarkan umat manusia untuk selalu mengendalikan lingkungannya, termasuk pemanasan global dan perubahan iklim. Ternyata Nyepi memiliki makna yang melampaui konsep awalnya, dalam melestarikan alam, mengendalikan pencemaran sehingga konse[ awa; sebagai saat kembali ke sunyi, tetap abadi sepanjang masa.
“SELAMAT HARI RAYA NYEPI CAKA WARSA 1934”

Minggu, 26 Februari 2012

STATISTIK GEMPABUMI SUSULAN

STATISTIK GEMPABUMI SUSULAN

Teori Dasar:
1.  
         Gempabumi terjadi karena adanya pelepasan energi stress yang telah matang, pada patahan,  akibat adanya gaya kontinyu yang bekerja pada batuan tersebut;
2.       Teori elastic rebound;
3.       Dalam pelepasan energi pada bahan elastik akan terjadi proses transien, sehingga proses pelepasan stress akan melalui proses peluruhan.
Asumsi :
1.       Patahan yang terjadi umumnya bukanlah patahan tunggal,  disamping patahan utama juga terjadi patahan-patahan lain yang skalanya lebih kecil;
2.       Ada sisa energi yang masih tertinggal pada patahan tersebut;
3.       Pada saat proses menuju keseimbangan baru, blok-blok patahan membuat keseimbangan baru,  sehingga terjadilah gempa-gempa yang ukurannya lebih kecil dari gempa utama.
4.       Gempabumi susulan akan berakhir bila di daerah fracture dimana gempabumi itu terjadi mencapai keseimbangan baru, dan energi yang dilepaskan pun sudah stabil.
Jenis-jenis gempa dikaitkan dengan gempa susulan.
Menurut Mogi , gempabumi dibedakan menjadi 3 tipe, yaitu :
1.       Gempabumi Tipe I. Yaitu rangkaian gempabumi, yang hanya terdiri dari gempa utama (main shock) dan gempa susulan ( after shocks)  saja, tanpa di dahului oleh gempa pendahuluan  (fore shock);
2.       Gempabumi Tipe II, Yaitu rangkaian gempa bumi yang terdiri dari : gempa pendahuluan, gempa utama dan gempa susulan;
3.       Gempabumi Tipe III, yaitu rangkaian gempabumi yang tidak disertai dengan gempa utama, dia akan merupakan rangkaian gempabumi tanpa gempa utama, dan sejalan dengan waktu akan berhenti sendiri. Tipe ini sering disebutkan sebagai “swarm”, kejadiannya biasa pada daerah vulkanik ataupun daerah longsor,  luncuran.
Tipe-tipe gempa bumi tersebut, dengan contoh kejadiannya terlihat pada gambar: 1
Dengan dasar berfikir teori dan asumsi di atas, maka gempabumi susulan dapat diprediksi kapan berakhirnya. Perhitungan ini diperlukan untuk mendapatkan estimasi kapan berhentinya gempa susulan guna diinformasikan ke masyarakat, guna meredam keresahan masyarakat di daerah bencana yang sudah terganggu mental psikologisnya.
Pada dasarnya bahwa gempabumi susulan jumlah maupun kekuatannya akan berkurang secara transien –umumnya eksponensial- meluruh terhadap waktu. Data hasil pengamatan gempa susulan yang diperoleh di lapangan, yang dicatat oleh seismograph dapat digunakan data perhitungan untuk menurunkan konstanta-kontanta, dalam persamaan peluruhan tersebut.
Pengalaman seorang seismologis akan menentukan ketepatan rumus yang harus digunakan di suatu tempat mengingat satu tempat dengan tempat lainnya akan mempunyai perbedaan kharakteristik.


Gambar: 1: Tipe Gempabumi dan Contoh kejadiannya ( Mogi,      )
Beberapa persamaan yang biasa digunakan untuk memprediksi berakhirnya gempa susulan.

Mengingat sangat banyak zone-zone aktif seismik, serta sebagian besar gempabumi besar di Indonesia disertai dengan gempa susulan yang sangat banyak dan relatif lama, maka keseriusan menekuni karakteristik gempa susulan masing-masing zonae aktif gempabumi akan memberikan pemahaman akan kharakteristik masing-masing zone, yang dapat digunakan pada saat mengestimasi berakhirnya gempa susulan disuatu zone.
Jakarta, 27 Pebruari 2012.
I Putu Pudja

Kamis, 23 Februari 2012

SOAL REMIDI Akademi Meteorologi dan Geofisika, Tingkat I/ Smt. I

MATA KULIAH : AGAMA HINDU
REMIDI UNTUK PERBAIKAN NILAI

1.   Panca Crada dikenal sebagai dasar keimanan umat Hindu. Menurut Saudara manakah Crada yang paling penting atau yang tidak penting dari ke lima Crada tersebut. Adakah Crada yang dapat di tinggalkan karena ke tidak pentingannya di bandingkan dengan Crada yang lain. Jelasakan bagaimana pendapat saudara.

2.   Sruti merupakan kitab suci ( pustaka suci ) Agama Hindu, merupakan wahyu  dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dibukukan, demikian pula Smreti, merupakan bagian pusata suci yang di tulis berdasarkan kebenaran yang telah teruji dan sesuai dengan ajaran dharma. Coba saudara jelaskan bagaimana posisi smreti di kaitkan dengan Sruti.

3.   Ramayana dan Mahabharata merupakan dua epos besar, oleh umat Hindu dianggap sebagai Itihasa. Zamannya memperlihatkan adanya perubahan paradigma pemikiran implementasi  dharma dalam Mahabharata bila dibandingkan Ramayana. Coba saudara uraikan dengan singkat apa saja yang menjadi perbedaan antara keduanya

4.   Dalam persembahayangan, secara umum kita melakukan panca sembah, jelaskan tahapan dan tujuannya masing-masing.

5.   Sangat banyak perbedaan yang terlihat dalam implementasi keagamaan Hindu di Bali bila dibandingkan dengan Hindu di India, menunjukkan bahwa agama Hindu diimplementasikan oleh umatnya dalam peribadatan sangat dinamis. Bagaiman pendapat saudara tentang hal ini, jelaskan!.

Catatan : Baca soal di atas dengan hati-hati, kemudian buat jawaban saudara secara lengkap.

Minggu, 15 Januari 2012

SEMINAR DAN TUGAS AKHIR

MATA KULIAH SEMINAR DAN TUGAS AKHIR
AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA                
Dosen Pengampu : I Putu Pudja

 SISTEMATIKA PEROPOSAL / LAPORAN PENELITIAN
BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.    Identifikasi Masalah
C.    Pembatasan Masalah
D.    Rumusan Masalah
E.    Kegunaan Hasil Penelitian

BAB II.    TEORI PENDUKUNG/TINJAUAN PUSTAKA
A.    Deskripsi konseptual
Disini diuraikan teori teori yang mendukung konsep penelitian, di terangkan satu persatu parameter atau besaran yang akan di teliti. Termasuk diuraikan teori rumusan statistik yang akan digunakan di dalam menghitung dan menganalisis paramere yang akan menjadi parameter penelitian.
B.    Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang sejenis yang pernah dilakukan, berdasarkan teori yang sama, parameter yang sama maupun penelitian serumpun pada lokus yang sama.
C.    Hipotesis Penelitian
Yang merupakan jawaban sementara secara teoritik mengenai masalah yang akan di teliti.

BAB III    METODOLOGI PENELITIAN
A.    Tujuan Penelitian
B.    Tempat dan Waktu Penelitian
C.    Metode Penelitian
D.    Populasi dan Sampel
E.    Teknik Pengumpulan Data
F.    Teknik Analisis Data
G.    Hipotesis Statistika

BAB IV    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Membahas secara sistematis hasil-hasil yang telah diperoleh dari prosesing data, dengan meninjau satu per satu hasil yang diperoleh, ditinjau dari teori maupun kaitannya dengan penelitian sejenis sebelumnya terhadap parameter yang sama, maupun terhadap penelitian sejenis di lokus yang sama.
BAB  V   KESIMPULAN  IMPLIKASI  DAN  SARAN 
A.    Kesimpulan
B.    Implikasi : dari hasil penelitian ini –bila ada-
C.    Saran

DAFTAR  PUSTAKA

Catatan : pada saat Mata Kuliah Seminar, proposal peneltian (Tugas Akhir) ditulis hanya sampai dengan bab III saja, sedangkan untuk Tugas Akhir, setelah melalui proseseing data dilanjutkan sehingga Tugas Akhir akan lengkap dari Bab I sd Bab V.

Rabu, 11 Januari 2012

WEDA

Sekilas Tentang Weda. 

Weda merupakan pustaka suci agama Hindu, disebut pustaka karena terdiri dari beberapa buku, yang ditulis sebagai transformasi wahyu yang didapat dari pendengaran ‘sruti’ ke dalam pusataka suci. Dalam bentuk lain pustaka suci ini disebut weda-weda, sehinga kitab suci agama hindu sering disebut dengan Weda (Veda).

Bentuk jamak dari Weda tersebut adalah :  Reg Weda, Yayur Weda, Sama Weda, dan Atharwa Weda. Jadi Weda bukanlah satu buku namun merupakan kumpulan buku-buku sebagai bentuk transformasi wahyu dari pendengaran dalam bentuk tulisan atau pustaka. Saking banyaknya pustaka ini ada juga yang menggolongkannya menjadi : Samhita atau mantra ( Kitab kitab berisikan  nyanyian pujaan ); Brahmana (kitab-kitab untuk para pendeta); Aranyaka (Buku-buku hutan), dan Upanisad ( kitab-kitab filsafat esoterik).

Bagian akhir dari Upanisad disebut pula sebagai wedanta, weda anta atau weda terakhir yang dalam agama Hindu sering disebutkan sebagai wahyu yang laing ekselen, paling tinggi kualitasnya.Weda juga dikatakan sebagai simbul dari tradisi, basis terakhir dari kepercayaan dan praktik. Weda sebagai simbul tradisi dari iman dan takwa, keyakinan dan implementasinya.

Kalau Weda merupakan wahyu atau sruti, maka kerja dan tradisi dikumpulkan dalam smrti (semerti), yang merupakan tradisi karena merupakan sesuatu yang diingat. Dengan demikian smrti merupakan karangan sehingga penulisnyapun diketahui. Dia tumbuh dari ungkapan, untuk membantu ingtaan sehingga disebutlah sebagai serat, sutra atau benang, yang diartikan juga sebagai ungkapan untuk diingat oleh mereka yang mau mempelajarinya.

Smrti mempunyai dua arti : (1) dalam arti yang terbatas dia berarti buku-buku hukum, ekonomi, dan tingkah laku pribadi pemeluk agama hindu; (2) dalam art yang luas merupakan seluruh buku-buku keagamaan yang ditulis dan diketahu penulisnya,
Dengan demikian Sruti, merupakan kitab-kitab yang berisikan hal-hal yang berkaitan dengan dharma dan mokhsa, moralitas dan pembebasan. Wedannta membahas secara khusus hal yang berkaitan dengan moksa, sedangkan smrti menjelasakan masalah dharma terutama dalam pandangan sosial politik.

Kebenaran moral merupakan hal yang sifatnya abadi, namun implementasinya akan sangat dipengaruhi oleh zaman.  Ini menunjukkan bahwa agama atau dharma itu sifatnya sangat luwes, namaun kebenaran dharma itu tetap abadi. Sruti mengajarkan kita kebenaran abadi, smsrti memberikan peluang kita untuk mengimplementasikan agama atau dharma itu untuk selalu disesuaikan dengan zamannya. Ini terbukti dari delapan samskara atau sakramen smrti, hanya dua yang diikuti secara universal oleh umat Hindu sampai saat ini, yaitu sakramen perkawinan dan sakramen penguburan.

Bila sruti meletakkan hukum-hukum abadi dalam hurup-huruf besar, srruti mengerjakan cetakan halusnya, para maharsi dari waktu ke waktu bersama raja-raja besar memterjemahkannya dalam tingkah laku sehari-hari secara normatif melalui tindakan mereka sendiri, sehingga mereka dianggap sebagai inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa. Sejarah suci mereka dalam mengejawantahkan ajaran dharma ini dikenak sebagai Itihasa. Dua Itihasa yang terkenal adalah Ramayana dan Mahabarata.
Ramayana terdiri dari sekitar 24 ribu sloka, yang mengisahkan perjalanan hidup Rama, sejak kelahiran, perjuangan cintnya dengan Dewi Sita yang dirampas Rahwana, melalui peperangan di pengasingan Rama mendapat kemenangan dan kembali bertakhta di Kerajaan Ayodyapura. Ramayana bahkan oleh beberapa kalangan penganut Hindu di India maupun di luar India, sebagai padanan material dan moral dari Kerajaan Tuhandi bumi.

Mahabarataterdiri dari sekitar 100 ribu sloka yang mengisahkan pergulatan dan perjuangan Kurawa dan Pandawa sebagai keturunan bharata demi sebuah takhta. Pergulatan ini dimenangkan pihak Pandawa dengan bantuan Kresna, sebagai reinkarnasi Tuhan Yang Maha Esa.
Kedua kisah besar ini merupakan mata air informasi tentang agama Hindu, yang dikatakan bahwa “Apa yang ditemukan disini dapat ditemukan dimanapun, tapi apa yang tidak ditemukan disini tidak akan dapat ditemukan dimanapun”.  Narasi narasi yang ditemukan dalam kedua kisah ini satu dengan lainnya akan sangat berhubungan.

Kami yakin bahwa Saudara-saudara pernah menyimak kedua kisah epos Ramayana dan Mahabarata, disana secara garis besar diperkenalkan ajaran moral yang tinggi sebagai implementasi dari ajaran dharma, hanya saja ada sedikit perbedaan, kalau pada Ramayana diajarkan etika formal, hitam putih dimana kita diajarkan dilarang untuk berbohong, namun dalam Mahabarata, diajarkan ada permakluman, diajarkan bahwa berbohong itu diperbolehkan sepanjang dia memiliki tujuan yang lebih besar dan lebih mulia dari kebohongan itu. Keduanya menekankan pada masalah moralitas .

Bentuk populer ajaran Hindu disebut Purana. Yang menggabungkan aspek asketik dan aspek eroik, antara yang suci dan profan. Salah satu purana yangs angat terkenal dalah Bagawata Purana, yang mengisahkan kehidupan masa muda Krisna, yang tiba-tiba muncul pada Mahabarata sebagai orang dewasa. Feminisme dalam agama Hindu di ulas pada bagian dari Markandeya Purana, yaitu Dewi Mahatma sebagai keagungan seorang dewi.

Tantra, pustaka agama yang terkait dengan cara pemujaan, juga disebut sebagai pustaka agama. Pustaka agama dipandang sangat penting karena meletakkan aturan dalam pendirian bangunan keagamaan, lokasi pelinggih, penempatan patung dll nya. Perkembangan tempat sembahyang pada awalnya hanya difokuskan dengan mantara-mantra, kemudian di masukkan unsur citra, image sebagai sarana pemujaan. Jadi dalam Tantra di ajarkan sejarah pemujaan,

Pustaka Darsana merupakan aliran filsafat yang diterima dalam agama Hindu. Pustaka ini mengandung enam aliran filsafat, yaitu: Nyaya ( logis realistis); Vaiseka ( atomistik pluralisme); Sakhya ( ontologi dualisme); Yoga ( meditasi realisasi diri); Mimamza ( Vedik Ritualistik); dan Vedanta ( sifat yang didasarkan atas upanisad).

Semua filsafat ini kecuali Sankhya berdasarkan pada kitab-kitab yang berisi pernyataan yang bersifat dalil-dalil yang akan dikomentari para sarjana dan cerdik cendekia sepanjang sejarah, dari generasi ke generasi. Yang paling utama dalam aliran ini adalah Wedanta, tidak saja berdasarkan upanisad akan tetapi juga merupakan satu ringkasan dalil-dalil dari upanisad yang disebut sebagai Brahmasutra, yang dikenal dengan teks kedua yang utama. Keduanya bersama Bagawadgita secara kolektif disebut sebagai Prastanatraya, diterjemahkan sebagai tiga hukum, secara kiasan dinyatakan sebagai tiga titik acuan / referensi