Sawah di sekitar Larantuka

Salah satu sudut jalan transflores yang menghubungkan antara Maumere dan Larantuka

Pantai Larantuka

Salah satu pesisir pantai di kota Larantuka

Danau Tiga Warna Kelimutu

Danau tiga warna terdapat di kabupaten Ende, Flores.

Labuan Bajo

Salah satu spot menarik di Labuan Bajo, Manggarai, FLores.

Tari Hegong

Tarian Tradisional dari Maumere, Flores, untuk penyambutan tamu.

Sabtu, 10 Mei 2014

Meneliti itu mudah!

"APAKAH MENELITI ITU SUSAH?"

I Putu Pudja


Banyak staf kami yang fungsional, serta murid kami yang kebingungan saat memulai penelitian membuat tugas akhir, skripsi, thesis ataukah disertasi. Demikian juga yang harus menulis ilmiah, hasil penelitiannya sebagai tenaga fungsional yang sudah bejibun jenuisnya saat ini. Dikantor kami ada : Pengemat Meteorologi dan Geofisika, peneliti, perekayasa, peranata komputer, pengarsiparis, pustakawan dan lain lainnya, yang pada tingkatan tertentu harus menulis hasil penelitian.

Kalau mereka faham apa itu metodologi penelitian seharusnya mereka tidak mengalami kesulitan, hanya saja ketika kuliah mereka biasanya kurang perhatian, kurang mau belajar, hanya mereka umumnya meniru tugas akhir yang dilakukan seniornya.

Pengetahuan ilmiah deifahami sebagai pengetahuan yang diperoleh dengan tahapan tertentu, secara sistematis. Kalau kita berpedoman pada definisi ini seharusnya kita tidaklah susah mengadakan penelitian. Tahapan penelitian yang sistematis tersebut dapat diurutkan sebagai berikut:

1. Langkah pertama dari sebuah penelitian adalah bagaimana kita mengenali adanya masalah, yang muncul dari sebuah latar belakang, yang melatar belakangi penelitian kita. Bila masalah itu sangat banyak, identifikasilah maslaah tersebut menjadi masalah-masalh, kemudian coba membatasi masalah yang hendak kita selesaikan, kemudian rumuskanlah masalah yang akan kita selesaikan dengan penelitian kita.

Proses ini biasanya ditampung dalam sebuah Bab yaitu pendahuluan, dengan menambahkan tujuan penelitian, maupun manfaat penelitian. Sehingga bab satu itumerupakan pendahuluan, dengan intinya "Perumusan Masalah", yang didapat dai Latar belakang, kemudain diidentifikasi, dibatasui terus dirumuskan. Pada oendahuluan kemudian ditambahkan Tujuan penelitian. apakah penelitian yang kita lakukan merupakan sebuah eksplorasi, evaluasi, justifikasi, ataukan tujuan lainnya, kira-kira apa manfaat penelitian kita minimal untuk organisasi kita. Tidak jarang pada Bab Pendahuluan ditambahkan sebuah sub Bab yang menguraikan sistematika penuliasn.

2. Setelah kita merusmuskan masalah pada langkah pertama, langkah berikutnya kita mencari dukungan teori-teori, maupun penelitian sejenis sebelumnya yang dilakukan peneliti lain. Dari keduanya kita akan mencoba menyusun konsep berfikir kita dalam menyelesaikan permasalahan yang kita rumuskan sebelumnya secara teoritis. Jawaban yang kita dapatkan secara teoritis, dan perlu diuji kebenarannya kita sebut sebagai Hipotesis. jadi inti langkah kedua ini adalah penyusunan "Hipotesis" . Proses ini di tidak lain adalah proses pengiringan pemikiran kita dalam mencari jawaban permasalahan yang kita hadapi secara teoritis. Langkah ini di tampung dalam Bab dua yang intinya adalah penyusunan Hipotesis. Bab ini biasanya berisikan : Teori-teori Pendukung, yang didapat dari studi literatur ( utamanya texbooks), penelitian yang dilakukan peneliti sebelumnya, yang umumnya bersumber dari Jurnal. bulletin ilmiah dan lain sebagainya, kemudian Konsep Berfikir, yang kemudian pada akhir bab ini diakhiri dengan penyusunan Hipotesis, sebagai solusi dari permasalahan yang kita akan selesaikan, secara teoritis. Hipotesis nilah yang akan kita buktikan kebenarannya, apakah diterima atau ditolak setelah pengolahan data.

3. Langkah ke tiga adalah, langkah Pengumpulan data, pengolahan data, termasuk didalamnya menentukan lokasi penelitian, waktu penelitian, alat yang digunakan, jenis format data yang diperoleh, batasa wilayah penelitian beserta batasan batasan lain yang kita jumpai dalam pengumpulan dan pengolahan data. Karena disini kita dihadapkan pada pengolahan data maka kita akan menggunakan metode-metode. Metode pengumpulan data, atau metode pengambilan data, metode pengolahan data. Sehingga langkah ini biasanya di tampung dalam satu bab, yaitu bab III, Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data. Biasanya dilengkapi dengan flowchart kerja, algoritma kerja dan  yang memudahkan para pembaca mengetahui proses data yang kita lakukan dari pengumpulan sampai pengolahan serta mendapatkan hasil olahan.

4. Langkah ke 4 adalah langah ekpresif para peneliti, tidak jarang dianggap sebagai panggung para peneliti untuk mengungkapkan pendapatnya terkait dengan hasil penelitian, padahal intinya hanyalah pengujian hasil analisis, untuk menguji apakah hipotesa diterima atau ditolak.

Hasil yang diperoleh diulas tuntas, dikaitkan dengan teori yang dihimpun pada babII, hasil penelitian orang lain yang sejenis, diperbandingkan hasilnya. Biasanya ditonjolkan kebaruannya karena sesuai filosofi penelitian harus ada pembaruan. Keluarkan kemampuan narasi saudara pada bab ini agar tidak sia-sia teori yang telah saudara himpun, guna mendukung hasil pengolahan data, ataupun mempromosikan hipotesa yang telah diterima. Semua ini biasanya ditampung dalam bab IV.

Pada Bab ini telah diketahui, baik secara statistik maupun bukan, diterima tidaknya hipotesis yang kita telah susun di bab II. Kalau diterima atau ditolak apa implikasinya terhadap bidang yang kita teliti, dan kira kemana arah pengembangan penelitian berikutnya, dan seterusnya. Si penelitilah yang paling tahu. Satu persatu hipotesis yang telah disusun di uji kebenarannya, kemudaian diulas tuntas satu persatu

5. Langkah berikutnya sebagai langkah terakhir merupakan Penarikan kesimpulan, yang umumnya merupakan pernyataan lugas sebagai hasil penelitian, berupa kalimat-kalimat singkat yang paralel dengan Masalah yang telah dirumuskan, Hipotessi, serta hasil pengujian hipotesis

Kalau langkah langkah itu dapat dilakukan, niscaya kegiatan penelitian pasti tidak akan sulit. Hanya saja kebiasaan kita yang tidak rajin dan teliti menyimpan arsip, membaca buku mencari referensi, menyebabkan kebingungan dari mana penelitian itu dimulai.

Ayolah semangat ikuti langkah-langkah tersebut, sehingga kesulitan menulis makalah, membuat Tugas Akhur, Skripsi, Thesis, maupau Disertasi pasti akan terasa lebih mudah dan ringan. Selamat.


Minggu, 04 Mei 2014

Tektonik vs Volkanik



“GEMPABUMI TEKTONIK ‘GANGGU’ AKTIPITAS GUNUNG API DI JAWA”

Oleh : I Putu Pudja

Beberapa hari terakhir dapat kita ikuti di media masa telah terjadi peningkatan aktipitas gunung api (volkanik) dari Gunung Merapi (Jateng-DIY), Gunung Slamet (Jateng) dan Gunung Bromo (Jatim).  Gunung Merapi mengeluarkan dentuman yang tidak teratur, sampai terdengar hingga 7 kilometer, mengeluarkan asap hitam, mengeluarkan hujan abu, dan adanya materal pijar merayap turun dari puncaknya.

Demikian pula untuk Gunung Slamet, mengeluarkan percikan api, lelehan lava hujan abu, serta dentuman yang didengar secara tidak beraturan jaraknya, serta Gunung Bromo. Bahaya Gung Merapi dan Gunung Slamet, dilaporkan Badan Geologi, masih berada pada kawasan yang terbatas, serta Gunung Bromo masig dalam tahap waspada.

Peningkatan aktipitas kali ini menjadi sangat menarik karena kejadiannya didahului oleh meningkatnya aktipitas gempabumi tektonik di daerah perairan di sebelah selatan Jawa Tengah-Yogyakarta- Jawa TImur. Seperti yang terjadi dengan letusan Merapi 20 April 2014, di dahului oleh gempabumi tektonik sebanyak dua kali tanggal 18 April 2014, demikian pula dengan letusan kemarin 29 April 2014 terjadi didahului oleh gempabumi yang terjadi 28 April 2014.

Bagaimana prose situ bisa terjadi, padahal jarak antara kawah gunung-gunung api tersebut sangat jauh dari sumber gempa tektonik yang mendahuluinya?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita coba lihat data-data gempa tektonik terkait dengan kejadian itu.

GEMPABUMI TEKTONIK
Selama dua bulan, yaitu Maret sampai April 2014 ini di dasar laut selatan Jawa – Bali, tercatat beberapa kali terjadi gempabumi tektonik yang dirasakan goncangannya dan dilaporkan ke BMKG, diantaranya adalah : 
1.       Gempabumi tanggal 28 April 2014,  pk 12 20 WIB, berpusat di 9,0 LS-110,32 BT pada kedalaman 10 km, dengan kakuatan 5,9 SR ;
2.       Gempabumi 27 April 2014, pk. 14 13 WIB, pada posisi 8,76 LS – 109,39 BT pada kedalaman 15 km, dengan kekuatan 4,4 SR, posisinya arah barat daya Kebumen;
3.       Gempabumi 18 April 2014 sebanyak dua kali. (1) pk. 22 07 WIB, pada posisi 9,19 LS – 110,38 BT pada kedalaman 40 km dengan kekuatan 5,3 SR, dan (2) pk 20 33 WIB, pada posisi 9,3 LS – 110,33 BT pada kedalaman 10 km dengan kekuatan 5,6 SR keduanya arah barat daya Gunung Kidul;
4.       Gempabumi 7 April 2014, pk 07 27 WIB, pada posisi 7,19 BT – 110,85 BT pada kedalaman 14 km dengan kekuatan 3,6 SR, posisinya sekitar 13 km arah barat daya Grobogan, Purwodadi.
5.       Gempabumi  21 Maret 2014,  pk 04 32 WIB, berpusat pada posisi 9,76 LS – 114,14 BT pada kedalaman 10 km dengan kekuatan 5,3 SR, posisinya arah barat daya Banyuwangi; 
6.       Gempabumi 16 Maret 2014, pada pk. 21 53 WIB, pada posisi 8,91 LS – 110,99 BT pada kedalaman 12 km dengan kekuatan 5,2 SR, posisinya arah barat daya Pacitan; 
7.       Gempa 9 Maret 2014 pada pk.20 42 WIB, pada posisi 9,2 LS – 112,98 BT pada kedalaman 10 km dan kekuatan 5,4 SR, posisinya arah tenggara Malang;

Secara tektonik Jawa Tengah dan Jawa Timur telah digoyang gempabumi tektonik dari selatan maupun utara sebanyak sedikitnya delapan kali gempabumi tektonik. Proses gempabumi ini secara regional sebenarnya sebagai hasil penekanan lempeng tektonik Indo-Australia sebagai lempeng oceanic, kepada lempeng tektonik Eurasia, sebagai lempeng kontinen. Penekanan terjadi secara massif dan kontinyu, sehingga magma yang terdapat di perut bumi Jawa secara kontinyu juga akan ikut terkompressi.

Nah sisa-sisa material yang berupa fluida, gas maupun cairan ( magma ) di perut bumi Jawa, yang mempunyai penglepasan pada titik titik volkanik, sebagai kawah gunung api ini terkocok-kocok selama dua bulan belakangan ini secara intensif dengan peningkatan gempabumi tektonik, sebagai manifestasi penglepasa energy stress akibat tekanan pada daerah pertemuan kedua lempeng tektonik diatas.

Material gas yang meningkat dan menelusp celah batuan yang sempat tertutup akan mengeluarkan dentuman, sedangkan material magma atau padat yang terdesak dan bergesek dengan material batuan lainnya dalam prosesnya keluar ke permukaan akan menjadikannya berpijar.Pijaran ini yang lah yang disaksikan masyarakat sebagai petir atau kilatan api di puncak merapi, demikian pula lelehan lava dari magma yang sudah melelh keluar akan menyemburkan sinar atau api karena panasnya. Ini yang menyebabkan dalam proses pengeluaran material gunung api di Gunung Merapi,  dan Gunung Slamet berdentum, seperti ledakan balon yang meledak (dalam skala kecil).

Jadi prosesnya sangat sederhana, dimana pelepasan energy dinamik maupun statis gempabumi, berupa tekanan yang terus menerus dua lempeng tektonik sebagai energi statis dan getaran gempabumi sebagai manifestasi merambatnya enegi dinamis. Energi statis ikut memompa material fulida di perut bumi sekitarnya, dan energy dinamis akan mengocok material fluida yang ada di perut bumi yang menjadi dapur magma gunung api yang sedang mengaktip di ats.

Tingkat aktipitas gunung api itu, sangat dipengaruhi oleh posisi dimana material fluida itu berada. Menurut Badan Geologi, material yang dikeluarkan oleh Gunung Merapi dan Gunung Slamet merupakan pelepasan material yang ada di kedalaman dangkal, sehingga letusannyapun tidak terlalu hedat. Seperti disebutkan diatas, Gunung Merapi dan Gunung Slamet berbahaya hanya sampai daerah terbatas. Sedangkan Gunung Bromo masih dalam tahap waspada.

Mengenai proses selanjutnya akan sangat ditentukan oleh meningkat tidaknya proses gempabumi tektonik, maupun kepastian material yang terganggu di perut gunung api tersebut apakan hanya bagian yang dangkal saja atau juga di kedalaman jauh juga terganggu. Mudah-mudahan saja semuanbya akan menuju kea rah keseimbangan baru segera dicapai.

KASUS SERUPA
Bila menengok sejenak beberapa aktipitas Gunung Api di Indonesia, kelihatannya proses terganggunya aktipitas volkanik karena adanya gempabumi tektonik pernah menimpa pada gunung api di Sulawesi Utara dan Maluku Utara akibat aktiptas gempabumi tektonik yang meningkat di daerah sekitarnya –Melanguane, Kep Sangir Talaud. Gunung tersebut adalah Gunung Lokon (2012) dan Gunung Gamalama.

Sifat ini rupanya juga dimiliki oleh gempabumi tektonik yang terjadi sepanjang perairan Samudera Hindia, selatan Jawa Tengah – Jawa Timur terhadap minimal pada Gunung Merapi, Gunung Slamet, dan Gunung bromo.

Dari kejadian ini dapat dipetik hikmahnya, bahwa aktipitas gempabumi tektonik di selatan Jawa Tengah – jawa Timur, dapat dijadikan ‘warning’ minimal untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bahaya letusan gunung api di daerahnya terutama untuk masyarakat yang ada di daerah berbahaya di ketiga gunung api tersebut.

KESIMPULAN

Dari rangkaian data gempabumi tektonik dan peningkatan aktipitas gunung api ( Merapi, Slamet dan Bromo), antara kedua peristiwa tersebut saling terkait, dimana terjadinya gempabumi tektonik di daerah tepian lempeng tektonik dapat memicu aktpitas gunung api yang ada di bagian dalam lempeng tersebut.

Gemabumi yang terjadi selempeng tektonik dengan posisi gunung api berdekatan dapat digunakan sebagai precursor, pemberi peringatan masyarakat yang ada di daerah bahaya Gunung api, karena ada kemungkinan akan meningkat aktipitasnya.

Penulis : Lektor Kepala, pada Akademi Meteorologi dan Geofisika.

Selasa, 22 April 2014

Gempa tektonik picu aktivitas volkanik



“AKTIVITAS GUNUNG MERAPI TERPICU GEMPABUMI TEKTONIK”
Oleh : I Putu Pudja

Gunung Merapi 20 April 2014 kembali menunjukkan erupsi atau letusan , walau tergolong kecil sempat membuat ketar-ketir masyarakat penghuni lereng Merapi. Erupsi kali ini sangat menarik karena kejadiannya kembali diadahului oleh adanya gempa tektonik. Seperti kita ketahui gempa tektonik terjadi dua kali pada hari Jumat sebelumnya yaitu 18 April 2014, dengan kekuatan 5,3 dan  5,6 Skala Richter. Data gempabuminya seperti berikut;

Rabu, 16 April 2014

Seismisitas Bali



“SEISMISITAS SEGMEN SELATAN JATIM-BALI-NTT MENINGKAT AKTIPITASNYA”

Oleh : I Putu Pudja

Minggu, 9 Maret 2014 merasakan tiga kali getaran gempabumi dalam waktu kurang dari tiga belas jam, masyarakat pesisir Kuta yang merupakan pantai tersibuk di Bali merasakannya dengan getaran sekitar II MMI untuk gempa-gempa tersebut. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa ketiga gempabumi  tersebut memang mempunyai epicenter relatip dekat dengan pantai Kuta. Gempabumi tersebut yaitu:

Rabu, 26 Maret 2014

Gempa Laut

STUDI AWAL HUBUNGAN GEMPA LAUT DAN GEMPA DARAT
SUMATERA DAN SEKITARNYA
Listya Dewi Rifai1, I Putu Pudja2
1Akademi Meteorologi dan Geofisika
2Puslitbang BMKG
ABSTRAK
Secara umum, wilayah Sumatera di bagi menjadi dua sumber gempa tektonik, yaitu pada zona
subduksi di sepanjang laut dan pada zona-zona sepanjang patahan sistem sesar Sumatera di
daratan. Sebagai studi awal untuk melihat interaksi antara kejadian gempa pada kedua daerah
tersebut, maka dilakukan pendekatan dengan menganalisa gempa berdasarkan P-axis fokal
mekanisme, rentang waktu kejadian, dan jarak dengan mengambil sampel dari data sejumlah
gempabumi dirasakan yang pernah terjadi di laut dan di daratan pulau Sumatera selama tahun
2007 sampai 2009. Setelah dilakukan analisa P-axis dari hasil plot fokal mekanisme, jarak, dan
selang waktu kejadian, diindikasikan bahwa kejadian gempa di laut mentrigger terjadinya gempa
di darat. Didapatkan bahwa sebelum gempa darat 19 Juni 2008 dan 01 Oktober 2009, sejumlah
gempa-gempa di lautnya memiliki kelurusan arah P-axis cenderung terhadap gempa di daratan.
Kata kunci: P-axis, gempa laut, gempa darat.
ABSTRACT
Generally, Sumatera devided by 2 resources of tectonic earthquake, consist of subduction zone
along the sea and subduction along fracture at Sumatera fault system in the land. As the begining
study for observe interaction of earthquake from both of earthquake zone, do approximate to
analyse the earthquake according P-axis of focal mechanism, stretches of time, and distance with
take sample from a number of felt earthquake data that occur in the sea and the land of Sumatera at
2007 - 2009. After analyse P-axis from result of focal mechanism plot, distance, and time range,
indicated that earthquake occur in the sea trigger earthquake occur in the land. We found that before
earthquake 19 Juny 2008 and 1 October 2009, a number of earthquake in the sea have P-axis
direction inclined turned to earthquake in the land.
Key words: P-axis, earthquake in the sea, earthquake in the land.
Naskah masuk : 27 September 2010
Naskah diterima : 15 November 2010
142

Rabu, 19 Maret 2014

Kapan Kabut Asap Hilang

"KAPAN KABUT ASAP HILANG?"


Stream Line
Itu pertanyaan yang sering di ucapkan teman-teman di daerah bencana kabut asap, terutama di Riau dan dekitarnya saat ini!. Sebenarnya sudah sangat banyak informasi yang diberikan oleh temen-teman di TanjungPinang, yang mengatakan bahwa telah terjadi dryspell yang sangat panjang di daerah ini, sehingga hujan kelihatannya enggan turun.

Hari terang dikatakan sampai mencapai 60 hari, sehingga dapat kita bayangkan betapa kering dan panasnya daerah tersebut. Hal itu sebenarnya sudah penulis ungkapkan di tulisan sebelumnya tentang kabut asap di Pekanbaru dan sekitarnya. yang diakibatkan oelh dua hal yang sangat dominan. (1) ada nya bayangan hujan yang menimpa daerah tersebut, sehingga angin turun panas membuat keringnya lahan dipermukaan, (2) daerah ini menjadi belokan angin baratan yang dipekuat oleh seruakan dingin Asia ( Asia Cool Surge), yang menguras uap air di atas wilayah ini karena dengan segera tertarik ke arah timur, dan menjadikannya hujan diluardaerah ini.

Kedua kondisi ini akan membuat semakin garing, udara diatas daerah Riau, dalam jangka waktu yang panjang. Kondisi ini dapat memicu api berkembang sangat cepat bila terjadi titik api, terlebih kita ketahui bahwa daerah bencana ini merupanan daerah gambut dan primadona pengembangan perkebunan kelapa sawit, sehingga suasana kering dan kemarau ini menjadi ajang yang baik untuk pembakaran atau kebakaran. Atau titik api karena alami muncul atau titik api karena disengaja oleh seseorang untuk kepentingan sendiri atau perusahaannya.

Kondisi ini menjadikan Riau-baca Pekanbaru- seakan merupakan daerah kering di tengah daerah hujan dan musim kemarau yang melanda di monsun baratan ini. Kita bisa perhatikan bahwa Kalimantan, jawa, Sumatera Selattan di satu pihat mengalami musim hujan bahkan kebanjiran, juga daerah belahan barat Bukit Barisan seperti Aceh Besar - Aceh tenggara, pesisir barat Sumut masih sering mengalami hujan selama Riau kebakaran.

Awan hujan di atas wilayah Riau, seakan enggan muncul karena tarikan kuat angin baratan yang beresonansi dengan angin lanjutan akibat seruakan dingin Asia, ditambah angin turun panas akibat uap airnya telah terkuras turun sebagai hujan di belahan barat Bukit Barisan.

Nah kapan kbut asap di Pekan baru, atau daerah Riau akan berhenti. Saat Bapak Presiden SBY meninjau pemadaman kebakaran lahan di daerah itu, dilaporkan kabut asap sudah menipis, dan hujan pun sudah mulai turun. Jadi kapan dong. Nah sebagai jawaban fisisnya tentu saja kabut asap akan berhenti atau berkurang sejalan dengan melemahnya seruakan dingin Asia, melemahnya angin monsun baratan, serta melemahnya Moment Dipole Negatif. Kelihatannya fenomena tersebut sudah mulai menghilang, sehingga kabut asap Riau akan mulai berkurang juga.

Jawaban pertanyaan itu adalah bahwa kabut asap akan menghilang sejalan dengan melemahnya monsun baratan, seruakan dingin Asia, serta melemahnya dampak Momen Dipole.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
ipt_pudja@yahoo.com
Pondok Betung, 19 Maret 2014


Rabu, 12 Maret 2014

Sehari kurang, tiga gempa dirasakan.

“SEISMISITAS SEGMEN SELATAN JATIM-BALI-NTT MENINGKAT AKTIPITASNYA”

Oleh : I Putu Pudja

"Suasana Pantai Kuta"( www.google.com)
Minggu, 9 Maret 2014 merasakan tiga kali getaran gempabumi dalam waktu kurang dari tiga belas jam, masyarakat pesisir Kuta yang merupakan pantai tersibuk di Bali merasakannya dengan getaran sekitar II MMI untuk gempa-gempa tersebut. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa ketiga gempabumi tersebut memang mempunyai epicenter relatip dekat dengan pantai Kuta. Gempabumi tersebut yaitu:

  • Tanggal 9  Maret 2014, pk 07 50 01 WIB 9.41 LS -115.04BT kedalaman 30 km kekuatan 4,4 SR dirasakan II MMI di Kuta Bali. Pusat gempabumi sekitar 78 km tenggara Kuta Bali.
  • Tanggal 9 Maret 2014 18 49 08 WIB 11.48 LS – 118.84 BT kedalaman 10 km kekuatan 5.0 SR . Pusat gempabumi sekitar 218 km Barat Daya Sumba Barat, dirasakan II – III di Sumba Barat, di pantai Kuta dirasakan II MMI
  • Tanggal 9 Maret 2014 pk. 20 42 16 WIB 9.20 LS – 112.98 BT kedalaman 10 km kekuatan 5.4 SR . Pusat Gempabumi  sekitar 115 km Tenggara Malang, dirasakan di Malang II-III MMI, Sidoharjo, Yogyakarta II MMI, pantai Kuta II MMI
Ketiga gempa tersebut menunjukkan bahwa segmen zona subdaksi antara Jawa Timur – NTT measih merupakan segmen seismic aktip, yang dalam duapuluh tahun terakhir belum terjadi gempabumi besar. Terakhir yang cukup besar terjadi adalah saat terjadi gempabumi dan tsunami di pantaiselatan Jember dan Banyuwangi 1994.

Karena demikian dekatnya waktu kejadian gempabumi satu dengan lainnya, sangat mungkin telah terjadi triggering, gangguan kesetimbangan energi di segmen tersebut, yang sudah lama ‘tidur’ mengumpulkan nergi. Akan tetapi bila ditarik ke kejadian yang lebih jauh maka kita temukan kejadian volkanik yang berdekatan secara temporal terhadap kejadian ini yaitu leutusan Gunung Kelud, beberapa minggu lewat, sehingga pertanyaan melebar menjadi “apakah letusan Gunung Kelud  juga memicu aktipitas zona subdaksi disekitarnya?”

Bila memperhatikan kekuatan gempabumi yang terjadi hanya antara 4,4 – 5,4 SR, maka dapat dikatakan bahwa gempabumi yang kecil demikian sudah mengguncangkan daerah daerah yang sangat luas, menunjukkan bahwa sudah terjadi kelemahan struktur sampai tinggkat permukaan, sehingga gangguan getaran dirasakan sampau daerah yang sangat jauh, untuk gempabumi selatan Malang. Menurut sejarah kegempaan dan sifat gelombang seismic jarang gempa dangkal (kedalaman 10 km) dirasakan sampai begitu jauh Sidoarjo, dan Yogyakarta.

Demikian pula untuk gempabumi tenggara Kuta, dengan kekuatan hanya 4,4 SR dengan jarak sekitar 78 kilometer dari daerah Kuta, Bali ternyata getarannya dirasakan di Kuta II Skala MMI. Padahal juga merupakan gempabumi dangkal hanya dengan kedalaman 30 km.

Untuk gemoabumi Sumba, masih masuk akal dengan kekuatan 5,0 SR goncangannya dirasakan II MMI di daerah Sumba Barat dan Pantai Kuta, walau episesenternya relatip jauh.

Dari ketiga gempa tersebut dapat diduga bahwa ketiganya berada pada lempeng Erasia, yang melandasai Pulau Sumba-Bali dan Jawa. Khusus untuk gempabumi Kuta dan Malang kelihatannya gempa tersebut terjadi pada plat tektonik kontinen Eurasia, sebagai patahan yang terjadi akibat kuatnya desakan dari lempeng tektonik Oseanik Indo-Australia.

Secara kesetimbangan energy, pelepasan secara nyicil demikian dari sebuah segmen menguntungkan, karena penumpukan energy yang terjadi di daerah tersebut terbagi secara temporal, dan tidak dilepas sekaligus, sehingga tidak terjadi gempa yang cukup besar. Namun kalau kita melihat statistic kegempaan di daerah tersebut rupanya sudah cukup lama ‘senyap’ (gap seismic), sehingga patut dipertanyakan apakah ketiga gempa itu hanyalah merupakan fore shock, atau merupakang single event. Nah hanya waktu yang bisa menjawabnya, sambil kita cermati data gempabumi yang berasal dari daerah tersebut.

Penulis : seismolog, sekarang dosen pada Akademi Meteorologi dan Geofisika, Jakarta.