Sawah di sekitar Larantuka

Salah satu sudut jalan transflores yang menghubungkan antara Maumere dan Larantuka

Pantai Larantuka

Salah satu pesisir pantai di kota Larantuka

Danau Tiga Warna Kelimutu

Danau tiga warna terdapat di kabupaten Ende, Flores.

Labuan Bajo

Salah satu spot menarik di Labuan Bajo, Manggarai, FLores.

Tari Hegong

Tarian Tradisional dari Maumere, Flores, untuk penyambutan tamu.

Jumat, 23 Maret 2012

MARI MEMANDANG NYEPI DARI SALAH SATU SUDUT PANDANG Oleh : I Putu Pudja

Nyepi sebagai Bentuk Implementasi Tri Hita Karana
Nyepi, bukanlah suatu rutinitas yang datangnya setahun sekali. Nyepi merupakan kontemplasi jiwa, di keheningan menuju pencerahan, menyongsing kasih karunia Ida Sang Hyang Widhi.  Sebagai pelatihan untuk selalu menuju yang esa, Manunggaling Kawula Lan Gusti, sebagai tujuan hidup manusia yang paling luhur.
Nyepi mengandung makna, perbaikan keseimbangan hidup. Menyeimbangkan hubungan yang serasi kepada Ida Sang Hyang Widhi, menyeimbangkan hubungan serasi sesame manusia, serta menyeimbangkan diri dengan alam lingkungan, sebagai perwujudan dan implementasi bahwa Ida Sang Hyang Widi merakhmati se,ua ciptaannya, sehingga kita manusia wajib pula melakukan hal itu.
Proses ini oleh masyarakat Bali disebut Tri Hita Karana. Semua proses ini terlihat pada prosesi Nyepi, yang diawali dengan melasti sebagai sarana pembersihan diri dan alam semesta secara spiritual, butta yadnya pengerupukan dengan mecaru sebagai perwujudan keseimbangan dan keselarasan hidup manusia dengan lingkungan, alam itu sendiri,  catur brata penyepian sebagai sarana mawas diri terhadap apa yang telah diolakukan minimal setahun terakhir, menyatukan diri dan ‘nunas’ berkah dan karunia Ida Sang Hyang Widi di hari yang baik ini.
Nyepi berarti kembali ke kosong, agrometer nol dalam kesucian lahir bathin. Kosong sebagai asal mula alam dunia ini sebagai sunya, sunyi, sunia. Sebagai makna dari ekawara ngaran luwang. Dan proses terakhir adalah ngembak geni sebagai proses penyelarasan diri dengan sesame umat, karena secara sadar dalam kehidupan ini setiap orang pasti pernah berbuat salah terhadap yang lainnya, sehingga perlu saling memaafkan. 
Semua ini berdasarkan keikhlasan, dimana rumusan sederhana Ilmu Ikhlas itu sebagai berikut :
Ikhlas + Ikhlas = Berkah ,
yang dapat kita terjemahhkan dalam hubungan hidup sebagai keokhlasan yang member, keikhlasan yang menerima, astungkara akan menjadi berkah untuk keduanya. Hendaknya demikian pula dalam kita membangun kontempelasi keseimbangan hidup yang memaknai Tri Hita Karana.
Makna Catur Brata
Dalam melaksanakan nyepi, kita melakukan catur brata penyepian, yaitu : Mati Geni, Mati Karya, Mati Lelanguan, dan Mati Lelungaan. Disini mati berarti terminal, diam, tidak. Mati Geni tidak menyalakan api, merupakan simbul penciptaan kesunyian, kesiap siagaan, sehingga kita dapat berada pada suasana hening, senyap dengan minilam sinar (api), mati geni juga berarti tidak memasak, yang berarti nyepi perlu persiapan, minimal persiapan makanan sehari sebelumnya, menyiapkan makanan yang tidak basi untuk sehari dan tidak memerlikan pemanasan. Ingat bahwa pada awaknya nyepi tidak disertai frngan puasa. Baru belakangan ini setelah banyak paka pakar agama lulusan India yang mengamalkan ilmunya di tanah air. Sehingga mati geni bermakna luas, keheningan, kesunyian, oersiapan hingga pengekangan hawa napsu yang juga berarti unsure api dalam diri.
Mati karya, berarti : tidak melakukan pekerjaan sehari penuh pada sat hari nyepi. Tujuannya agar kita dapat melakukan kontempelasi diri dengan baik, tidak diganggu dengan pekerjaan rutin sehari-hari. JUga merupakan kesempatan untuk bersama sama melakukan kontempelasi berjamaah di dalam rumah bersama keluarga. Menyatukan diri dengan diri sendiri – atma- , Ida Sang Hyang Widi, serta dengan alam semesta yang sangat kelelahan telah menyapkan manusia bahan kehidupan.
Agas kedua Mati tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka kita sangat mengurangi kegiatan yang mengganggu kontempelasi, sehingga tidak melakukan kegiatan yang jauh dari rumah, sehingga kita todak bisa bepergia, sebagai wujud mati lelungaan. Demikian pula tidak banyak waktu untuk melakukan perawatan diri, bersolek, sehingga wangi, sebagai wujud dari mati lelanguan. Jadi kita diharapkan dapat mengoptimalkan kelima indera kita merenungkan, meikmati keheningan nyepi, tidak terganggu oleh wewangian –lelanguan-, yang dapat mengganggu konsentrai kita melakukan nyepi.
Recovery kualitas udara dan nilai ekonomis.
Dari segi perubahan iklim dan pemansasn global, pemberhentian kegiatan sehari semua kendaraan, tidak menyalakan api, tidak bepergian, maupun tidak melakukan kerja, merupakan saat yang tepat untuk mengistirahatkan atmosfer kita menyerap polutan, sehingga dalam sehari apalagi saat musim hujan Maret, nyepi sangat membantu mengendapkan polutanh yang mengambang di udara, kualitas udara menjadi terbarujan, sehingg tak salah bila beberapa facebooker mengatakan saat nyepi bernafaslah panjang-panjang karena udara bersih, recoveri polutan dalam paru-paru dengan udara bersih.
Nyepi disini dapat berfungsi sebagai recovery udara di atmosfer, walau hanya sehari. Sebagai konsep menjaga keseimbangan antara umat manusia dengan alam semesta, dengan menyadari manusia dan alam semesta ini bersama-sama sebagai ciptaan TUhan, Ida Sang Hyang Widhi yang terus menerima rakhmatnya.
Dari segi ekonomis, bisa dihitung berapa biaya yang dihemat saat nyepi dengan tidak adanya kendaraan bermotor, pabrik dll yang berhenti mengkonsumsi bahan bakar minyak –BBM-, sehingga tidak lah salah bila Bupati (Badung) saat COP-UNFCC di bali mengusulkan kalau konsep nyepi dapat diadopsi untuk dilakukan secara universal untuk ikut mengendalikan polusi. Minimal memberikan bumi dan atmosfer ini beristirahat untuk menyerap polutan dan gas rumah kaca, sehingga secara rutin dapat menyedarkan umat manusia untuk selalu mengendalikan lingkungannya, termasuk pemanasan global dan perubahan iklim. Ternyata Nyepi memiliki makna yang melampaui konsep awalnya, dalam melestarikan alam, mengendalikan pencemaran sehingga konse[ awa; sebagai saat kembali ke sunyi, tetap abadi sepanjang masa.
“SELAMAT HARI RAYA NYEPI CAKA WARSA 1934”

Rabu, 14 Maret 2012

Analisa Perbandingan Anomali Gravitasi dengan Persebaran Intrusi Air Asin (Studi Kasus Jakarta 2006-2007)


Litanya Octonovrilna dan I Putu Pudja
Abstrak
Aplikasi pada bidang geofisika, berupa pengukuran gravitasi dilakukan di lapangan dalam jangka waktu tertentu, dengan tujuan untuk mendeteksi perubahan kondisi bawah permukaan bumi. Dalam hal ini dilakukan pengukuran gravitasi di wilayah Jakarta untuk mendeteksi perubahan kondisi hidrologi Jakarta dalam kaitannya dengan fenomena intrusi air asin. Secara geografis daerah penelitian berada pada -6.35158 s.d -6.08655 LS dan 106.689 s.d. 106.955 BT. Pengolahan data gravitasi wilayah Jakarta dilakukan dalam 2 periode, yaitu periode I (September 2006) dan periode II (November � Desember 2007). Anomali gravitasi tertinggi terdapat pada bagian pusat dan barat Jakarta ini mengindikasikan terjadinya fenomena subsidensi dan kekosongan massa akibat eksploitasi air tanah serta tekanan dari sejumlah gedung tinggi yang berpusat pada daerah tersebut. Anomali gravitasi terendah terdapat di bagian barat laut Jakarta yang bersesuaian konsentrasi nilai kepayauan tertinggi, mengindikasikan adanya intrusi air asin yang diakibatkan oleh adanya fenomena Conate water yang menyusup pada aquifer air tanah akibat eksplotasi air tanah berlebih. Hubungan pola aliran sungai dengan nilai kepayauan air, membuktikan adanya pengaruh sungai aquifer air tanah, namun dampaknya tidak terlalu berpengaruh terlebih pada aquifer dalam.
Kata kunci : anomali gravitasi, hidrologi Jakarta, intrusi

Studi Awal Hubungan Gempa Laut dan Gempa Darat Sumatera dan Sekitarnya


Listya Dewi Rifai dan I Putu Pudja

Abstrak

Secara umum, wilayah Sumatera di bagi menjadi dua sumber gempa tektonik, yaitu pada zona subduksi di sepanjang laut dan pada zona-zona sepanjang patahan sistem sesar Sumatera di daratan. Sebagai studi awal untuk melihat interaksi antara kejadian gempa pada kedua daerah tersebut, maka dilakukan pendekatan dengan menganalisa gempa berdasarkan P-axis fokal mekanisme, rentang waktu kejadian, dan jarak dengan mengambil sampel dari data sejumlah gempabumi dirasakan yang pernah terjadi di laut dan di daratan pulau Sumatera selama tahun 2007 sampai 2009. Setelah dilakukan analisa P-axis dari hasil plot fokal mekanisme, jarak, dan selang waktu kejadian, diindikasikan bahwa kejadian gempa di laut mentrigger terjadinya gempa di darat. Didapatkan bahwa sebelum gempa darat 19 Juni 2008 dan 01 Oktober 2009, sejumlah gempa-gempa di lautnya memiliki kelurusan arah P-axis cenderung terhadap gempa di daratan.
Kata kunci : P-axis, gempa laut, gempa darat

Abstract

Generally, Sumatera devided by 2 resources of tectonic earthquake, consist of subduction zone along the sea and subduction along fracture at Sumatera fault system in the land. As the begining study for observe interaction of earthquake from both of earthquake zone, do approximate to analyse the earthquake according P-axis of focal mechanism, stretches of time, and distance with take sample from a number of felt earthquake data that occur in the sea and the land of Sumatera at 2007 - 2009. After analyse P-axis from result of focal mechanism plot, distance, and time range, indicated that earthquake occur in the sea trigger earthquake occur in the land. We found that before earthquake 19 Juny 2008 and 1 October 2009, a number of earthquake in the sea have P-axis direction inclined turned to earthquake in the land.
Keywords : P-axis, earthquake in the sea, earthquake in the land

Minggu, 26 Februari 2012

STATISTIK GEMPABUMI SUSULAN

STATISTIK GEMPABUMI SUSULAN

Teori Dasar:
1.  
         Gempabumi terjadi karena adanya pelepasan energi stress yang telah matang, pada patahan,  akibat adanya gaya kontinyu yang bekerja pada batuan tersebut;
2.       Teori elastic rebound;
3.       Dalam pelepasan energi pada bahan elastik akan terjadi proses transien, sehingga proses pelepasan stress akan melalui proses peluruhan.
Asumsi :
1.       Patahan yang terjadi umumnya bukanlah patahan tunggal,  disamping patahan utama juga terjadi patahan-patahan lain yang skalanya lebih kecil;
2.       Ada sisa energi yang masih tertinggal pada patahan tersebut;
3.       Pada saat proses menuju keseimbangan baru, blok-blok patahan membuat keseimbangan baru,  sehingga terjadilah gempa-gempa yang ukurannya lebih kecil dari gempa utama.
4.       Gempabumi susulan akan berakhir bila di daerah fracture dimana gempabumi itu terjadi mencapai keseimbangan baru, dan energi yang dilepaskan pun sudah stabil.
Jenis-jenis gempa dikaitkan dengan gempa susulan.
Menurut Mogi , gempabumi dibedakan menjadi 3 tipe, yaitu :
1.       Gempabumi Tipe I. Yaitu rangkaian gempabumi, yang hanya terdiri dari gempa utama (main shock) dan gempa susulan ( after shocks)  saja, tanpa di dahului oleh gempa pendahuluan  (fore shock);
2.       Gempabumi Tipe II, Yaitu rangkaian gempa bumi yang terdiri dari : gempa pendahuluan, gempa utama dan gempa susulan;
3.       Gempabumi Tipe III, yaitu rangkaian gempabumi yang tidak disertai dengan gempa utama, dia akan merupakan rangkaian gempabumi tanpa gempa utama, dan sejalan dengan waktu akan berhenti sendiri. Tipe ini sering disebutkan sebagai “swarm”, kejadiannya biasa pada daerah vulkanik ataupun daerah longsor,  luncuran.
Tipe-tipe gempa bumi tersebut, dengan contoh kejadiannya terlihat pada gambar: 1
Dengan dasar berfikir teori dan asumsi di atas, maka gempabumi susulan dapat diprediksi kapan berakhirnya. Perhitungan ini diperlukan untuk mendapatkan estimasi kapan berhentinya gempa susulan guna diinformasikan ke masyarakat, guna meredam keresahan masyarakat di daerah bencana yang sudah terganggu mental psikologisnya.
Pada dasarnya bahwa gempabumi susulan jumlah maupun kekuatannya akan berkurang secara transien –umumnya eksponensial- meluruh terhadap waktu. Data hasil pengamatan gempa susulan yang diperoleh di lapangan, yang dicatat oleh seismograph dapat digunakan data perhitungan untuk menurunkan konstanta-kontanta, dalam persamaan peluruhan tersebut.
Pengalaman seorang seismologis akan menentukan ketepatan rumus yang harus digunakan di suatu tempat mengingat satu tempat dengan tempat lainnya akan mempunyai perbedaan kharakteristik.


Gambar: 1: Tipe Gempabumi dan Contoh kejadiannya ( Mogi,      )
Beberapa persamaan yang biasa digunakan untuk memprediksi berakhirnya gempa susulan.

Mengingat sangat banyak zone-zone aktif seismik, serta sebagian besar gempabumi besar di Indonesia disertai dengan gempa susulan yang sangat banyak dan relatif lama, maka keseriusan menekuni karakteristik gempa susulan masing-masing zonae aktif gempabumi akan memberikan pemahaman akan kharakteristik masing-masing zone, yang dapat digunakan pada saat mengestimasi berakhirnya gempa susulan disuatu zone.
Jakarta, 27 Pebruari 2012.
I Putu Pudja

Kamis, 23 Februari 2012

SOAL REMIDI Akademi Meteorologi dan Geofisika, Tingkat I/ Smt. I

MATA KULIAH : AGAMA HINDU
REMIDI UNTUK PERBAIKAN NILAI

1.   Panca Crada dikenal sebagai dasar keimanan umat Hindu. Menurut Saudara manakah Crada yang paling penting atau yang tidak penting dari ke lima Crada tersebut. Adakah Crada yang dapat di tinggalkan karena ke tidak pentingannya di bandingkan dengan Crada yang lain. Jelasakan bagaimana pendapat saudara.

2.   Sruti merupakan kitab suci ( pustaka suci ) Agama Hindu, merupakan wahyu  dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dibukukan, demikian pula Smreti, merupakan bagian pusata suci yang di tulis berdasarkan kebenaran yang telah teruji dan sesuai dengan ajaran dharma. Coba saudara jelaskan bagaimana posisi smreti di kaitkan dengan Sruti.

3.   Ramayana dan Mahabharata merupakan dua epos besar, oleh umat Hindu dianggap sebagai Itihasa. Zamannya memperlihatkan adanya perubahan paradigma pemikiran implementasi  dharma dalam Mahabharata bila dibandingkan Ramayana. Coba saudara uraikan dengan singkat apa saja yang menjadi perbedaan antara keduanya

4.   Dalam persembahayangan, secara umum kita melakukan panca sembah, jelaskan tahapan dan tujuannya masing-masing.

5.   Sangat banyak perbedaan yang terlihat dalam implementasi keagamaan Hindu di Bali bila dibandingkan dengan Hindu di India, menunjukkan bahwa agama Hindu diimplementasikan oleh umatnya dalam peribadatan sangat dinamis. Bagaiman pendapat saudara tentang hal ini, jelaskan!.

Catatan : Baca soal di atas dengan hati-hati, kemudian buat jawaban saudara secara lengkap.

Minggu, 15 Januari 2012

SEMINAR DAN TUGAS AKHIR

MATA KULIAH SEMINAR DAN TUGAS AKHIR
AKADEMI METEOROLOGI DAN GEOFISIKA                
Dosen Pengampu : I Putu Pudja

 SISTEMATIKA PEROPOSAL / LAPORAN PENELITIAN
BAB I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.    Identifikasi Masalah
C.    Pembatasan Masalah
D.    Rumusan Masalah
E.    Kegunaan Hasil Penelitian

BAB II.    TEORI PENDUKUNG/TINJAUAN PUSTAKA
A.    Deskripsi konseptual
Disini diuraikan teori teori yang mendukung konsep penelitian, di terangkan satu persatu parameter atau besaran yang akan di teliti. Termasuk diuraikan teori rumusan statistik yang akan digunakan di dalam menghitung dan menganalisis paramere yang akan menjadi parameter penelitian.
B.    Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang sejenis yang pernah dilakukan, berdasarkan teori yang sama, parameter yang sama maupun penelitian serumpun pada lokus yang sama.
C.    Hipotesis Penelitian
Yang merupakan jawaban sementara secara teoritik mengenai masalah yang akan di teliti.

BAB III    METODOLOGI PENELITIAN
A.    Tujuan Penelitian
B.    Tempat dan Waktu Penelitian
C.    Metode Penelitian
D.    Populasi dan Sampel
E.    Teknik Pengumpulan Data
F.    Teknik Analisis Data
G.    Hipotesis Statistika

BAB IV    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Membahas secara sistematis hasil-hasil yang telah diperoleh dari prosesing data, dengan meninjau satu per satu hasil yang diperoleh, ditinjau dari teori maupun kaitannya dengan penelitian sejenis sebelumnya terhadap parameter yang sama, maupun terhadap penelitian sejenis di lokus yang sama.
BAB  V   KESIMPULAN  IMPLIKASI  DAN  SARAN 
A.    Kesimpulan
B.    Implikasi : dari hasil penelitian ini –bila ada-
C.    Saran

DAFTAR  PUSTAKA

Catatan : pada saat Mata Kuliah Seminar, proposal peneltian (Tugas Akhir) ditulis hanya sampai dengan bab III saja, sedangkan untuk Tugas Akhir, setelah melalui proseseing data dilanjutkan sehingga Tugas Akhir akan lengkap dari Bab I sd Bab V.

Rabu, 11 Januari 2012

WEDA

Sekilas Tentang Weda. 

Weda merupakan pustaka suci agama Hindu, disebut pustaka karena terdiri dari beberapa buku, yang ditulis sebagai transformasi wahyu yang didapat dari pendengaran ‘sruti’ ke dalam pusataka suci. Dalam bentuk lain pustaka suci ini disebut weda-weda, sehinga kitab suci agama hindu sering disebut dengan Weda (Veda).

Bentuk jamak dari Weda tersebut adalah :  Reg Weda, Yayur Weda, Sama Weda, dan Atharwa Weda. Jadi Weda bukanlah satu buku namun merupakan kumpulan buku-buku sebagai bentuk transformasi wahyu dari pendengaran dalam bentuk tulisan atau pustaka. Saking banyaknya pustaka ini ada juga yang menggolongkannya menjadi : Samhita atau mantra ( Kitab kitab berisikan  nyanyian pujaan ); Brahmana (kitab-kitab untuk para pendeta); Aranyaka (Buku-buku hutan), dan Upanisad ( kitab-kitab filsafat esoterik).

Bagian akhir dari Upanisad disebut pula sebagai wedanta, weda anta atau weda terakhir yang dalam agama Hindu sering disebutkan sebagai wahyu yang laing ekselen, paling tinggi kualitasnya.Weda juga dikatakan sebagai simbul dari tradisi, basis terakhir dari kepercayaan dan praktik. Weda sebagai simbul tradisi dari iman dan takwa, keyakinan dan implementasinya.

Kalau Weda merupakan wahyu atau sruti, maka kerja dan tradisi dikumpulkan dalam smrti (semerti), yang merupakan tradisi karena merupakan sesuatu yang diingat. Dengan demikian smrti merupakan karangan sehingga penulisnyapun diketahui. Dia tumbuh dari ungkapan, untuk membantu ingtaan sehingga disebutlah sebagai serat, sutra atau benang, yang diartikan juga sebagai ungkapan untuk diingat oleh mereka yang mau mempelajarinya.

Smrti mempunyai dua arti : (1) dalam arti yang terbatas dia berarti buku-buku hukum, ekonomi, dan tingkah laku pribadi pemeluk agama hindu; (2) dalam art yang luas merupakan seluruh buku-buku keagamaan yang ditulis dan diketahu penulisnya,
Dengan demikian Sruti, merupakan kitab-kitab yang berisikan hal-hal yang berkaitan dengan dharma dan mokhsa, moralitas dan pembebasan. Wedannta membahas secara khusus hal yang berkaitan dengan moksa, sedangkan smrti menjelasakan masalah dharma terutama dalam pandangan sosial politik.

Kebenaran moral merupakan hal yang sifatnya abadi, namun implementasinya akan sangat dipengaruhi oleh zaman.  Ini menunjukkan bahwa agama atau dharma itu sifatnya sangat luwes, namaun kebenaran dharma itu tetap abadi. Sruti mengajarkan kita kebenaran abadi, smsrti memberikan peluang kita untuk mengimplementasikan agama atau dharma itu untuk selalu disesuaikan dengan zamannya. Ini terbukti dari delapan samskara atau sakramen smrti, hanya dua yang diikuti secara universal oleh umat Hindu sampai saat ini, yaitu sakramen perkawinan dan sakramen penguburan.

Bila sruti meletakkan hukum-hukum abadi dalam hurup-huruf besar, srruti mengerjakan cetakan halusnya, para maharsi dari waktu ke waktu bersama raja-raja besar memterjemahkannya dalam tingkah laku sehari-hari secara normatif melalui tindakan mereka sendiri, sehingga mereka dianggap sebagai inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa. Sejarah suci mereka dalam mengejawantahkan ajaran dharma ini dikenak sebagai Itihasa. Dua Itihasa yang terkenal adalah Ramayana dan Mahabarata.
Ramayana terdiri dari sekitar 24 ribu sloka, yang mengisahkan perjalanan hidup Rama, sejak kelahiran, perjuangan cintnya dengan Dewi Sita yang dirampas Rahwana, melalui peperangan di pengasingan Rama mendapat kemenangan dan kembali bertakhta di Kerajaan Ayodyapura. Ramayana bahkan oleh beberapa kalangan penganut Hindu di India maupun di luar India, sebagai padanan material dan moral dari Kerajaan Tuhandi bumi.

Mahabarataterdiri dari sekitar 100 ribu sloka yang mengisahkan pergulatan dan perjuangan Kurawa dan Pandawa sebagai keturunan bharata demi sebuah takhta. Pergulatan ini dimenangkan pihak Pandawa dengan bantuan Kresna, sebagai reinkarnasi Tuhan Yang Maha Esa.
Kedua kisah besar ini merupakan mata air informasi tentang agama Hindu, yang dikatakan bahwa “Apa yang ditemukan disini dapat ditemukan dimanapun, tapi apa yang tidak ditemukan disini tidak akan dapat ditemukan dimanapun”.  Narasi narasi yang ditemukan dalam kedua kisah ini satu dengan lainnya akan sangat berhubungan.

Kami yakin bahwa Saudara-saudara pernah menyimak kedua kisah epos Ramayana dan Mahabarata, disana secara garis besar diperkenalkan ajaran moral yang tinggi sebagai implementasi dari ajaran dharma, hanya saja ada sedikit perbedaan, kalau pada Ramayana diajarkan etika formal, hitam putih dimana kita diajarkan dilarang untuk berbohong, namun dalam Mahabarata, diajarkan ada permakluman, diajarkan bahwa berbohong itu diperbolehkan sepanjang dia memiliki tujuan yang lebih besar dan lebih mulia dari kebohongan itu. Keduanya menekankan pada masalah moralitas .

Bentuk populer ajaran Hindu disebut Purana. Yang menggabungkan aspek asketik dan aspek eroik, antara yang suci dan profan. Salah satu purana yangs angat terkenal dalah Bagawata Purana, yang mengisahkan kehidupan masa muda Krisna, yang tiba-tiba muncul pada Mahabarata sebagai orang dewasa. Feminisme dalam agama Hindu di ulas pada bagian dari Markandeya Purana, yaitu Dewi Mahatma sebagai keagungan seorang dewi.

Tantra, pustaka agama yang terkait dengan cara pemujaan, juga disebut sebagai pustaka agama. Pustaka agama dipandang sangat penting karena meletakkan aturan dalam pendirian bangunan keagamaan, lokasi pelinggih, penempatan patung dll nya. Perkembangan tempat sembahyang pada awalnya hanya difokuskan dengan mantara-mantra, kemudian di masukkan unsur citra, image sebagai sarana pemujaan. Jadi dalam Tantra di ajarkan sejarah pemujaan,

Pustaka Darsana merupakan aliran filsafat yang diterima dalam agama Hindu. Pustaka ini mengandung enam aliran filsafat, yaitu: Nyaya ( logis realistis); Vaiseka ( atomistik pluralisme); Sakhya ( ontologi dualisme); Yoga ( meditasi realisasi diri); Mimamza ( Vedik Ritualistik); dan Vedanta ( sifat yang didasarkan atas upanisad).

Semua filsafat ini kecuali Sankhya berdasarkan pada kitab-kitab yang berisi pernyataan yang bersifat dalil-dalil yang akan dikomentari para sarjana dan cerdik cendekia sepanjang sejarah, dari generasi ke generasi. Yang paling utama dalam aliran ini adalah Wedanta, tidak saja berdasarkan upanisad akan tetapi juga merupakan satu ringkasan dalil-dalil dari upanisad yang disebut sebagai Brahmasutra, yang dikenal dengan teks kedua yang utama. Keduanya bersama Bagawadgita secara kolektif disebut sebagai Prastanatraya, diterjemahkan sebagai tiga hukum, secara kiasan dinyatakan sebagai tiga titik acuan / referensi