Sawah di sekitar Larantuka

Salah satu sudut jalan transflores yang menghubungkan antara Maumere dan Larantuka

Pantai Larantuka

Salah satu pesisir pantai di kota Larantuka

Danau Tiga Warna Kelimutu

Danau tiga warna terdapat di kabupaten Ende, Flores.

Labuan Bajo

Salah satu spot menarik di Labuan Bajo, Manggarai, FLores.

Tari Hegong

Tarian Tradisional dari Maumere, Flores, untuk penyambutan tamu.

Rabu, 28 Oktober 2015

Bencana Kabut Asap



Masalah Kabut asap Jambi-Riau:
“KONDISI METEOROLOGIS-GEOGRAFIS MENDUKUNG KEBAKARAN”

Oleh : I Putu Pudja

Kabut Asap Turunkan Jarak Pandang
Bencana kabut asap melanda Riau dan Jambi hampir empat bulan lamanya, sehingga transportasi di daerah itu hampir lumpuh, meningkatkan prepalensi ISPA di daerah tersebut, bahkan dilaporkan sampai mengakibatkan meninggal beberapa orang anak di daerah itu. Kedua daerah mengalami bencana terparah dibandingkan dengan daerah lainnya, yang juga dikabarkan mengalami kebakaran hutan dan lahan seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Kabut asap membuat semakin runyam masalahnya karena sampai menyebar kenegara tetangga Singapura dan Malaysia. Kedua negara itu menawarkan bantuan memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi. Walau pada awalnya pemerintah Indonesia ingin memadamkan sendiri, namun belakangan karena kesulitan dalam memadamkannya, akhirnya menerima bantuan negara-negara tetangga bukan saja Singapura dan Malaysia, tetapi negara-negara yang mempunyai mperhatian terhadap kebakaran hutan dan lahan ini. Dalam pemadalam kebakaran ini hampir semua unsur SAR dilibatkan. TNI dilaporkan juga terlibat pembuatan kanal-kanal permanen untuk memadamkan api di kedalaman gambut.
Secara historis memang daerah Jambi dan Riau mengalami hampir setiap tahun bencana ini, akan tetapi kualitas pencemaran kabut asap tahun ini dirasakan lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. Sehingga timbul pertanyaan Mengapa daerah Jambi dan Riau selalu mengalami kebakaran lahan dan hutan hampir setiap tahun.
Penulis akan mengajak siding pembaca melihat Kondisi meteorologis-geografis daerah ini, yang menyebabkannya relative lebih rawan kebakaran hutan dan lahan dibandingkan daerah lainnya yang juga pernah mengalaminya, yang sama-sama merupakan lahan gambut dan sedang gencar dikembangkan.
POSISI GEOGRAFIS
Dalam peta kita lihat kedua daerah tersebut beada di daerah katulistiwa, yang sebelah timur laut berhadapan dengan perairan Laut Cina Selatan-Selat Malaka, dan disebelah barat daya dibentengi oleh Bukir Barisan. Laut China Selatan dikenal dengan laut yang memasok uap air di Indonesia barat. Uap air ini secara teoritis juga seharusnya akan membuat hujan di daerah ini.
Seharusnya daerah Jambi dan Riau merupakan daerah yang kaya air, karena berhadapan langsung dengan Laut China Selatan yang dikenal mempunyai pasang surut diurnal yang sangat ekstrim, sehingga sering masuk ke sungai-sungai besar yang ada di kedua daerah ini. Minimal akan menghambat aliran air sungai saat pasang, dan akan melimpas ke DAS menggenangi gambut membuatnya basah, sehingga lebih sulit terbakar.
Pada kenyataannya malah kesulitan dihadapi dalam memadamkan api di daerah ini selama kebakaran hutan dan lahan. Jangan-jangan malah api tak pernah padam karena air tidak dapat mencapainya, baik secara alami mapun dengan air saat pemadaman.
Secara geografis posisi di khatulistiwa daerah ini dipengaruhi oleh gaya coriolis dan Boys Ballot akibat rotas bumi. Secara umu angina yang melintas khatulistiwa akan mengalami pembelokan, yang datang dari utara akan membelok kea rah tenggara, dan yang datang dari selatan akan membelok kearah timur laut.
Kedaua proses angin yang melintas daerah Jambi dan Riau ini akibat posisi geografis, secara meteorologis sangat ‘merugikan’ daerah tersebut. Terlebih adanya Bukit Barisan yang membentenginya dari dampak angina dari Samudera Hindia yang kaya uap air, karena sifat orografis hujan akan turun dilereng barat, Riau-dan jambi ada di daerah bayangan hujan.
KONDISI METEOROLOGIS
Dampak dari apa yang diutarakan pada dampak Posisi Geografis daerah Riau dan jambi menjadikan kedua daerah dirugikan secara meteorologis. Angin yang kaya uap air yang datang dari utara tidak sempat mengendap di atmosfer diatas daerah ini, karena dia akan segera dibelokkan oleh efek Boys Ballot.
Hasil penelitian yang dilakukan Puslibang BMKG maupun penelitian Prof Chang pakar meteorology tropis, menemukan bahwa di daerah khatulistiwa Laut China Selatan sangat sering terjadi vortek, yang membuat pusaran angina, menyebabkan angina lebih laju tertarik ke daratan katulistiwa Kalimantan.
Pusaran angina vortek dengan kelajuan dominan ini menarik secara spontasn uapaa air yang melintas di atas Jambi dan Riau segera kembali melintasi Laut China Selatan menuju Kalimantan. Hanya dalam pasang harian Laut China Selatan dampaknya menjadi pasang surut lebih ekstrim di daerah ini.
Udara diatas Jambi dan Riau akan menjadi relative selalu kering, baik dalam periode penghujan maupun  periode kemarau. Demikian pula kemarau seakan bergerak dari Riau-Jambi kemudian baru ke Kalimantan. Demikian pula dengan kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan bencana kabut asap kita ikuti Jambi dan Riau duluan mengalaminya baru kemudian Kalimantan. Seakan membenarkan apa yang diekmukanan Prof Chang dan hasil temuan Puslitbang BMKG.
Benteng Bukit barisan yang memaksa udara kaya uap air Samudera Hindia naik perlahan menaiki lereng barat dan menurunkan hujan orografis disana, sedangakn Riau dan jambi tetap mengalami angina turun bukit yang bersifat panas, yang sering disebut angina turun panas. Angin jenis ini juga melanda perkebunan tembakau di Deli, yang dikenal dengan angina Bahorok. Cuma kondisi Deli yang lebih di utara mengakibatkannya tidak mengamami kekeringan separah Jambi Riau.
Angin turun panas di Riau dan jambi ini akan membuat penuapan lahan menjadi lebih agresif, dan terjadi hampir sepanjang tahun. Setengah tahun akibat angin turun panas, setengah tahun akibat angin utara dari Laut China Selatan yang tertarik deras ke daratan Kalimantan. Pada perinsipnya Riau dan Jambi akan menjadi relative kering dengan kelembaban udara yang rendah, disamping mengurangi hujan juga membuat semakin kering lahan sehingga mudah terbakar, atau menghidupkan kembali kebakaran yang tak pernah padam pada gambut di kedalaman.
Dengan posisi geografis daerah ini, menyebabkan kondisi meteorologis setempat menjadi menunjang proses kebakaran hutan. Ini berlangsung sepanjang masa, menyebabkan Jambi Riau kebakaran setiap tahu. Upaya yang didapat dilakukan tentu harus disesuaikan dengan peneyebabnya.
Dikaitkan dengan pasang naik karena sifat pasang surut Laut China Selatan, secara alami dapat digunakan sebagai pemasok air ke kanal-kanal yang dibuat TNI secara permanen di daerah gambut, pengalirannya dapat dipakukan alami atau pompanisasi. Untuk jangka panjang akan membuat humus yang meningkatkan kelembaban dan mempersulit proses kebakaran hutan dan lahan.
SIMPULAN
Dari tinjauan terhadap posisi geografis dan kondisi meteorologis, maka keduanya menyebabkan daerah Jambi dan Riau semakin kering atau rendah kelembabannya, disamping mempersulit proses hujan juga akan memudahkan proses kebakaran. Angin turun panas dari barat dan pusaran angina akibat vortek Laut China Selatan membuat angin yang terkena efek pembelokan menjadi semakin kering dan kurang menurnkan hujan di daerah ini.
Kondisi ini mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan di daerah ini sulit dipadamkan, bahkan secara teoritis bisa saja tidak pernah padam tuntas karena menyisakan bara di gambut kedalaman yang siap membesar kembali bila kondisi alami kebakaran terpenuhi, dengan tanpa ada api sebagai awal kebakaran baru.
Karena semua ini terjadi secara alami, maka upaya TNI membuat kanalisasi pemadaman di daerah ini merupakan langkah yang tepat. Pengaliran air dapat menggunakan sifat pasang ekstrim Laut China Selatan yang meninggikan permukaan air sungai yang kebanyakan landau di daerah ini. Minimal di daerah ini air sungai akan sangat mudah, tinggal memikirkan bagaimana cara pengalirannya ke kanal, apakah secara alami atau pompanisasi. Sehingga upaya jangka panjang untuk menyiasati kelakuan alam di daerah ini dapat dilakukan, dampak kabut asap kebaran hutan dan lahan dapat ditekan.
Penulis: Lektor Kepala, Dosen Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta.

Rabu, 21 Oktober 2015

Silang Belantik dan Jari Matika


"BERNOSTALGIA DENGAN MATEMATIKA KAMPUNG"


Oleh : I Putu Pudja
Setelah memasuki masa tua, masa masa purna bhakti yang sudah seharusnya kulalui, namun berkat pengabdianku mengajar sejak muda barangkali, sehingga jalan hidup membawaku menjadi dosen di almamaterku, Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, yang dulu bernama Akademi Meteorologi dan Geofisika. Setiap mengajar aku terbawa kembali ke kenangan belajar masa lalu, apalagi pada saat melihat mahasiswaku kesulitan dalam memecahkan sesuatu.

Seperti saat mereka sudah calculator dan computer minded, mereka terkadang kesulitan menghitung sederhana bila alat itu tidak ada. Misalnya di tanya berpasih 8 x 6 hahaha..... terkadang merka kesulitan, melihat masalah ini aku ingat sebuah cara sederhana yang kusebut jarimatika. Kudapatkan secara tidak sengaja saat ketemu kawan dia bilang bahwa pernah baca intisari jadul tentang perhitungan dengan jari.

Dia ingat sedikit, kami eksplorasi bersama akhirnya mendapatkan cara sederhana perkalian, dengan asumsi sudah bisa menghitung sampai 5 x 5. Cara tersebut sebagai berikut:

Hasil kali : 8 x 6
maka kalau dilihat di jari 8 itu adalah 5 + 3 =====>sisa jari  2 
kemudian angka ke dua   6 itu adalah 5 + 1 =====? sisa jari 4
Hasil kalinga adalah : puluhan (3+1) = 4 dan satuannya adalah 2 x 4 = 8
Maka hasilnya adalah 8 x 6 = 48

Contoh lain :
9 x 8 maka ====> 9 itu 5 + 4 =====> sisa jari 1
                               8 itu 5 + 3 =====> sisa jari 2
maka  9 x 8   adalah dengan puluhan (4+3) =7 dan satuan 1 x 2 = 2 
Maka hasil kali 9 x 8 = 72

Kesimpulannya setiap angka ambil lebihnya dari 5, lebihnya itu dijumlahkan menjadi puluhan hasil kali, dan sisa jari diperkalikan hasilnya merupakan satuan, terus jumlahkan.

Demikian pula dengan perkalian diatas 10 cara nya serupa. akan dibahas kemudian. 
Siapa yang menemukan cara itu, akupun tak tahu karena timbul dari ekplorasi sendiri diilhami cerita kawan yang habis atau pernah baca di Intisari, Kami sebut Jari matima.

Terus dengan hal yang kedua kami punya cara pengecekan hasil perkalian, yang kudapat dari Seorang Belantek Saudagar Babi, yang suka membeli ternak penduduk saat aku kecil di kampungku. Ceriatnya begini. Saat naik dari kelas 1 ke kelas 2 SD aku kebetulan juara, saat itu hampir semua orang dikampung tahu termasuk ibuku, karena diumumkan saat kenaikan kelas dalam apel bersama sehingga semua murid dan yang hadir mendengarnya.

Setelah itu aku tak ambil pusing, Ibu menjual ternaknya. Setelah dikeranjangin ditimbang dengan timbangan gantung. Ibu memanggilku, Gung - panggilan seorang ibu kepada anak lakinya di Bali-coba kau lihat timbangan ternak ibu, jangan2 diakali oleh si engkoh, benar nggak dia nimbang, kamu kan sudah sekolah katanya. Maklum ibuku buta huruf walau bisa membaca lambat dan berbahasa indonesia.

Singkat cerita aku dipersilahkan oleh Si Engkoh untuk membaca timbangan. Kulihat palang timbangan sudah rata, dan angka menunjukkan angka  105 kg. Sudak kok 105 kg kataku, ya benar sahutnya.  Tadi kamu lihat berat keranjang 9 kg,  sehingga berat bersih 96 kg.  Oke jawabku karena memang keranjang sebelum ditimbang beratnya segitu.
Kemudian ia menunjukan sebuah tabel harga kuliat babi antar 90 - 99 kg harga per kilonya Rp. 43 / kg. Ayo kamu kalikan berapa hasil kali 96 kg kali Rp.43, Kuambil pecahan genteng kukalikan kudapati  Rp. 4128,- kutunjukkan kepada Si Engkoh, lalu dia corat coret di kertasnya, kuliat coretannya sbb:
95 adalah 9 + 6 = 8 dan 43 adalah 7 maka 8 x 7 = 56 itu sama dengan 11 ; terus dia lihat hasilku 4128 adalah 6 , Ya cocok jawabnya. Ku bayar lebih sisanya buat hadiah kamu katanya setelah memberikan uang ibuku Rp 4150,- Betapa senangnya aku dapat ilmu walau bingun dikasi hadiah lagi.

Tak sampai setengah menit dia katakan Ya gung Kamu benar, ibumu dapat Rp. 4128,- Akupun kaget kok cepat banget ya, ngeceknya.

Akhirnya aku tak mau kalah kucari berhari-hari caranya dia  mengecek hasil perkalian, kudapai bahwa hasil perkalian kecilnya sama dengan hasil perkalian besarnya.
Perkalian besar 96 x 43 = 4128 
Perkalian kecilnya (96) x (43) = (9+6) x (4+3) = (15) x 7 = (1+5) x 7 =6 x7 = 42 = 4+2 = 6 ...(A)
Hasil perkalian besarnya 4128 harus punya pengecilan 6
Kita cek apakah 4128 = 6? nah 4 + 1+ 2+ 8 = 15 = 6  ..... (B)
Ternyata B dan A sama berarti perhitungan kita benar,
Nah cara itu aku beri bama Rumus Saudagar Bali atau rumus Belantek. Rumus ini biasanya aku presentasikan dalam bentuk silang kiri dan kanan bilangan besar, hasilnya diatas, dan dibawah hasil perkalian kecil. Kalau keduanya sama kukatakan benar. Makanya metode ini kusebut saja dengan silang Belantek.

Saat berkesempatan aku training seismologi  di Universitas Paris 6, saat acara rehat kutanyakan cara itu kepada Prof Mechler, beliau dengan senang hati membuktikan, bahkan dicoba untuk berbagai ordo bilangan memang berlaku umum baik biner, exsamal maupun decimal. Terima kasih Prof.

Nah kedua cara atau metode diatas kusebut Matematika Kampung. Nah siapa tahu itu berguna dapat digunakan oleh pembaca silahkan.




                              

Senin, 28 September 2015

Benang Merah Penelitian Ilmiah

BENANG MERAH PENELITIAN ILMIAH


Pengalaman penulis sebagai pembimbing dan penguji Tugas Akhir, mengampu Mata Kuliah: Metodologi Penulisan Ilmiah, Metodologi Penelitian Ilmiah, maupun memeriksa tugas pembuatan makalah mahasiswa dari tahun ketahun terlihat bahwa:

  1. Ada kecenderungan, mahasiswa menghindari rujukan textbook, lebih banyak memilih rujukan digital, yang mudah di browsing di internet, sehingga kadar mutunya memang ada yang diragujan.  ==> dapat dilakukan upaya himbauan untuk mahasiswa lebih rajin membaca dan ada penyediaan textbook atau jurnal yang up date di perpustakaan;
  2. Ada kemerosotan mahasiswa dalam membuat bahasa yang menarik dalam tulisan mereka, terlebih pengaruh menulis saat chatting kadang terbawa dalam penulisan tugas akhir. ==> upaya yang bisa ditempuh mahasiswa membiasakan diri membuat atau menyusun tugas / malakah dll dengan bahasa sendiri tidak kopi secara komputer;
  3. Banyak mahasiswa yang bingung, dalam membuat Tugas Akhir, dengan sistim tunda tunda menjadikan mereka cenderung tidak mengikuti kaidah, bahkan bingung mana harus ditulis dimana. ==> UPaya yang terakhir ini akan penulis ceritakan dalam tulisan ini, sehingga benang merah penelitian akan terlihat jelas merupakan rangkaian fakta - teori- fakta - melahirkan teori dst. Atau silih bergantinya proses deduktif - induktif-deduktif dengan mengingat bahawa penelitian itu bersifat : rasional. empirik dan sistimatik.
  • Bab I biasa nya merupakan Pendahuluan dengan rohnya adalah masalah, yang bermuara pada perumusan masalah. Prosenya dimulai dari Latar Belakang, Identifikasi Masalah, Batasan Masalah, Rumusan masalah. Kemudaian Tujuan penelitian atau kegunaan penelitian dan sistimatika tidak jarang disertakan pada Bab ini;
  • Bab II, dengan rohnya adalah Hipotesis, yang merupakan jawaban sementara masalah  secara teoritis, karena akan diuji kemudian. prosesnya dimulai dengan menggali teori terkait masalah -variabel masalah-  dati textbook atau jurnal, buletin dll sumber, sehingga kita bisa membangun Deskripsi Teoritis, kemudian membantu kita menyusun Kerangka Berfikir Kondeptuak untuk akhirnya membangun hipotesis.; Proses ini harus wajib dilalui, walau beberapa penelitian tidak mengharuskan kita membuat hipotesis, seperti penelitian eksploratif, Untuk fokus dan jelas penelitiannya lebih disarankan selalu membuat hipotesis.
  • Bab III Merupakan Data dan Metode Analisis. Jelaskan Metode Pengumpulan Data, Tempat, Wakti, Batasan dll yang terkait data apakah data rpimer apa data ambil di sebuah instansi. Jelaskan bagaimana metode yang saudara gunakan, bagaimana algoritma pengolahan dan analisa datanya sampai saufara mendapatkan Hasil Analisis. Bila menggunakan software peneliti lain yang sudah running, coba pelajari dasar pembuatannya, minimal flowchart programnya dimengerti.
  • Bab IV Merupakan panggung peneliti untuk mengungkapkan pendapatnya dikaitkan dengan hasil analisa data yang diperoleh dikaitkan teori yang telah dia susun sebagai dalam deskripsi teori, Mana yang bersesuaian dan mana yang saling bertentangan. Termasuk ungkapkan kelebihan hasil penelitian sudara. Disini kita akan tahu sebagai pengujian apakah hipotesis kita benar atau salah. Diterima atau di tolak bahasa statistiknya. Bila saudara jeli disini akan dapat saudara ungkapkan apa implikasi dari penelitian saudara.
  • Dari hasil pengujian hipotesis ini kita telah mendpatkan kesimpulan yang akan di tulis pada Bab V.. Logika berfikir saudara akan tertuntun dengan langkah-langkah diatas.
 Nah itu dulu sharing pengalaman semoga ini dapat dijadikan renungan bagi yang sedang, akan maupun yang sudah menulis skripsi.

Selamat Belajar, dengan Belajar Kita Tahu
Salam dari Puri Gading, Bukit Selatan Bali

Sabtu, 26 September 2015

Skripsi Update



KELEMAHAN PENULISAN SKRIPSI MAHASISWA

Berdasarkan Pengalaman dan Pengamatan Pribadi

Tahun ini, tepatnya smester ini, kami mendapatkan tugas membimbing maupun menguji mahasiswa dalam penyusunan Tugas Akhir baik berupa Laporan Kerja, untuk Program Diploma III maupun Skripsi untuk program Diploma IV, Sarjana Terapan.
Beberapa hal yang masih merupakan kemajuan maupun kelamahan umum dijumpai sama dengan tahun tahun sebelumnya bagi mahasiswa. Disini yang kami jadikan smpel adalah Mahasiswa STMKG. Terlihat bahwa dalam penyusunan skripsi:
1.       Tidak ada persamaan persepsi tentang kedalaman materi, kedalaman pembahasan di dalam penulisan Tugas Akhir, Mahasiswa yang kreatif akan sangat jauh dan dalam pembahasannya, sedangkan untuk mahasiswa yang biasa-biasa saja mungkin karena memang kualitasnya yang memang standar atau factor kekurang rajinan ybs, hasil tulisan mereka biasa0-biasa saja. Bahkan ada kesan mereka menunggu dead line, karena mereka dalwam minggu yang sama di ujikan secara bersama sama;
2.       Mereka umumnya ‘pintar’ mengoperasikan program computer, yang softwarenya memang sangat mudah diminta atau mudah dicopy, karena sesame ilmuwan biasanya masalah beginian sangat mudah diminta atau di download bebas;
3.       Mereka secara umum sangat lemah dalam membangun Kerangka Berfikir Konspeptual untuk mencari, menemukan, memecahkan masalah yang mereka jadikan masalah peneltian. Meraka sangat lemah dalam mendiskripsikan teori untuk membangun hipotesa;
4.       Mereka umunya mendapatkan hasil yang sudah pasti ada karena umumnya software yang mereka gunakan umumnya sudah running. Hanya mereka lemah dalam memilih data, menguji data yang mereka gunakan, disamping basic teori yang mendasari membuat program tidak mereka kuasai.
5.       Mereka sangat miskin argumentasi, dalam membahas hasil penelitian, karena memang teori mereka sangat miskin, dan sangat miskin dengan referensi, Padahal mereka berbahasa inggris dengan tofl bagus katanya.
6.       Untuk keluar dari masalah itu, didasari dengan semakin mudahnya mendapatkan referensi bahan bacaan melalui internet, maka mau tidak mau mereka harus mau:
a.       Lebih banyak membaca buku textbook, bulletin, jurnal yang tersedia dibidangnya masing masing
b.      Mulai belajar membuat deskripsi teoritis;
c.       Mulai belajar membangun kerangka berfikir konseptual;
d.      Mau mempelajari software yang mereka gunakan dengan melihat basic teori sains yang mendasarinya;
e.      Membuat batasan kedalaman bahasan atau penelitian dalam menyusun tugas akhir, sehingga tidaj ‘jomlang’ antara mahasiswa satu dengan lainnya, dan
f.        Tentunya melihat tahapan sistimatis dalam langkah penelitian.
7.       Sedikit catatan sebagai oto kritik bagi civitas academika STMKG untuk kemajuan bersama, meraih masa depan yang lebih baik.

Bintaro, Akhir Agustus 2015

Kamis, 13 Agustus 2015

Berita Remedial Fisika II

Bagi mahasiswa STMKG yang nilainya belum memenuhi syarat lulus minimal, akan mengikuti remedial Fisika II sesuai jadwal.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan bahwa: soal terdiri dari 5 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 120 menit.

Pola soal sebagai berikut :

1.  Tiga soal hitungan yang semuanya merupakan soal gabungan dari Hukum termodinamika, yang bermuara pada entropi. Karena semua persoalan akan terkait dengan pelepasan maupun penyerapan kalor pada suatau kondisi, sheingga dapat dikaitkan dengan entropi. Dan dua soal merupakan soal teori, yang mengharuskan saudara menjelaskan sesuatu dari konspep fisika terutama yang terkait dengan sermodinamika.

2. Azas Blak yang banyak diakitkan dengan Kalor yang dilepas maupun kalor yang diterima, semuanya mempunyai suhi awal, sehingga bias saja dicari suhu akhir, kalor jenis, massa benda maupu entropi semesta dari sistem,/

3. Efisiensi Carnot, efisensi mesin, efisiensi HK dikaitkan dengan sebuah mesin pendingin atau mesin kalor.

4. Soal teori menghasruskan saudara menceritakan pemahaman saudara terhadap hokum termodinamika, bias mengenai suhu, bis mengenai lingkungan, system, kalor, energy dalam atau usaha. Dapat juga tentang pemahaman terhadap gas yang digunakan sebagai rujukan dalam pembahasan termodinamika seperti mikroskopoik, makroskopik, dan hokum hokum yang terkait dengan konsep tentang gas tersebut.

Harap saudara pelajari buku pegangan, baik yang saudara copy sebagai softcopy materi, maupun texsbook yang menjadi referensi.

Terima kasih dan selamat mempersiapkan diri.

Rabu, 08 Juli 2015

Soal Persiapan UAS STMKG



 Untuk menghadapi ujian akhir semester, ditengah liburan saudara sempatkan lah mencoba coba soal dan membaca buku-buku teksbook. Untuk Fisika II distribusi soal sbb: (1) Hukum ke Nol Thermodinamika +>Thermometer, aliran panas dan azas black, (2) Karena sempat disisipka Mekanika Fluida, akan di keluarkan soal terkait Hukum Bernoulli; (3) Hukum Pertama Thermodinamika sistem dan lingkungan terkail dengan proses siklik isobarik, isothermis, adiabatis dan isokhorik; (4) Hukum Kedua Thermodinamika terkait dengan Mesin proses fisis mesin dan efisensi, dan (5) Entropi Semesta, energi Rugi.(6) Soal alternatif terpadu .Semua soal merupakan kombinasi antara ketiganya Hukum Thermodinamika. Belajar dan cobalah mengerjakan persoalan dan soal-soal yang terkait, agar nilai saudara baikk.

 Dibawah ini beberapa soal dapat digunakan untuk latihan disamping soal-soal sebelumnya.
 
Latihan soal untuk UAS smt  2
Fisika II 

1.       Sebuah mesin mempunyai efisiensi HK 85 %. Mesin memindahkan panas dari tandon panas 500 K sebesar 200 kJ dalam sekali siklus, Membuang panas ke tandon dingin 200 K.
(a). . Berapakah efisiensi mesin tsb. (b) berapa usaha yang dilakukan pada setiap siklus;
(c). Berapa kalor yang dibuang pada setiap siklus,
2.      Jika  500 J dipindahkan dari tandon panas 400 K  ke tandong dingin 300 K. Berapakah perubahan entropi semesta.

3.      Gas Helium (γ =1,67) Mula-mula bertekanan 16 atm, volume 1 liter dan T = 600 K. Gas diekspansi secara isotermal sampai volumenya 4 liter. Kemudian di kompressi dalam tekanan konstan sampai volume dan tempraturnya sedemikian rupa mengembalikannya ke keadaan awal. (a) Gambarkan pada kurva p – V,  (b) hitung volume dan temperaturnya setelah proses isotermis.

4.      Sebuah mesin panas melakukan usaha meniup balon pada tekanan 1 atm. Menyerap 4 kJ dari tandon panas 120 oC Volume balon bertambah 4 liter dan pana sdibuang ke tandon dingin dengan temperatur tc  Jika efiensi HK mesin 50 % Hitunglah tc ?.

5.      Pada setiap siklus sebuah mesin panas dengan efisiensi HK 60%, memindahkan 100 J dari tandon panas 400 K ke tandon dingin bersuhu 300 K, Hitunglah perubahan entropi tiap tandon untuk satu siklus.

6.      Pada suatu kondisi termometer C menunjuk kan angka setengah dari termometer Fahrenheit. Tentukanlah pada kondisi tersebut termometer Reamur menunjukkan angka berapa?

7.      Sebuah bejana kaca dengan volume 1 liter diisi penuh dengan alkohol pada suhu 10 C. Kemudian di panaskan sampai suhu 30 C. Hitunglah jumlah alkohol yang jatuh. Bila α kaca = 9 x 10 -6 dan β alkohol = 1,1 x 10 -3 Semua konstanta MKS

8.      Tabung air terisolasi secara temal, dijatuhkan dari ketinggian h, dan bertumbukan dengan tanah secara tidak elastis sempurna, ternyata temperatur air naik 1 0C. Bila g = 9.81 m/s2, dan c air = 4,18 J/gr 0C. Hitunglah h.

9.       a. Hitunglah volume 1 mol uap air pada 100 0C dan tekanan 1 atm, dengan mengasumsikan nya sebagai gas ideal. b. Hitung pula temperatur uap air tersebut untuk besaran pada point a dengan mempergunakan koreksi  Van der  Wall untuk gas.  Bila a = 0.55 Pa.m6/mol2, dan b = 30 cm3 .

10.  Sebuah pompa panas ideal digunakan untuk memompa panas dari udara luar – 5 0C ke pasokan udara panas untuk kipas pemanas dalam rumah, yang bersuhu 40 0C. Pompa dijalankan oleh energi listrik. Berapa usaha yang dibutuhkan untuk mempompa 1kJ panas ke dalam rumah.

11.  Pada suhu berapa berapa derajat R,  bila termometer F menunjuk angka yang sama dengan termometer C.

Selamat Mencoba dan Selamat Berlibur dan Selamat Lebaran