Sawah di sekitar Larantuka

Salah satu sudut jalan transflores yang menghubungkan antara Maumere dan Larantuka

Pantai Larantuka

Salah satu pesisir pantai di kota Larantuka

Danau Tiga Warna Kelimutu

Danau tiga warna terdapat di kabupaten Ende, Flores.

Labuan Bajo

Salah satu spot menarik di Labuan Bajo, Manggarai, FLores.

Tari Hegong

Tarian Tradisional dari Maumere, Flores, untuk penyambutan tamu.

Selasa, 02 Oktober 2012

Kuliah Agama Hindu Sesi 1



Mata Kuliah
Paket :
Lama Pertemuan
Agama Hindu
Sesi 1



SESI 1.
PENDAHULUAN
Definisi Agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
 Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi", tidak pergi diwariskan secara turun temurun. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan bereligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Definisi tentang agama dipilih yang sederhana dan mempunyai cakupan luas, artinya definisi ini diharapkan tidak terlalu sempit atau terlalu longgar tetapi dapat dikenakan kepada agama-agama yang ada, dan selama ini dikenal melalui penyebutan nama-nama agama itu. Untuk itu terhadap apa yang dikenal sebagai agama-agama itu perlu dicari titik persamaannya dan titik perbedaannya.
Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Dan sumber yang luar biasa itu ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa manusianya sendiri. Misalnya ada yang menyebutkannya dengan: Tuhan, Sang Hyang Widhi, God, Allah dan lain-lain atau hanya menyebut sifat-Nya saja seperti Yang Maha Kuasa, Sangkan Paraning Dumadi, De Weldadige, atau dengan menyebutkan manifestasinya : Sang Pencipta, Sang Pemelihara, Sang Pemrelina dll.
Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu: menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan , serta menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dll yang diyakini berasal dari Tuhan
Dengan demikian diperoleh keterangan yang jelas, bahwa agama itu penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dalam pengertian ini, dalam agama terdapat 3 unsur, ialah manusia, penghambaan dan Tuhan. Maka suatu paham atau ajaran yang mengandung ketiga unsur pokok pengertian tersebut dapat disebut agama.
Cara Beragama
Cara beragamanya: Ada berbagai cara dalam beragama, yaitu :
CaraTradisional, yaitu cara beragama berdasar tradisi. Cara ini mengikuti cara beragamanya para nenek moyang, leluhur atau orang-orang dari angkatan sebelumnya. Cara ini pada umumnya kuat dalam beragama, sulit menerima hal-hal keagamaan yang baru atau pembaharuan. Apalagi bertukar agama, bahkan tidak ada minat. Dengan demikian kurang dalam meningkatkan ilmu amal keagamaanya.
Cara Formal, yaitu cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya atau masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti cara beragamanya orang yang berkedudukan tinggi atau punya pengaruh. Pada umumnya mereka tidak kuat dalam beragama. Mereka mudah mengubah cara beragamanya jika berpindah lingkungan atau masyarakat yang berbeda dengan cara beragamnya. Mereka mudah bertukar agama jika memasuki lingkungan atau masyarakat yang lain agamanya. Mereka ada minat meningkatkan ilmu dan amal keagamaannya akan tetapi hanya mengenai hal-hal yang mudah dan nampak dalam lingkungan masyarakatnya.
Cara Rasional, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan pengetahuan, ilmu dan pengamalannya. Mereka bisa berasal dari orang yang beragama secara tradisional atau formal, bahkan orang tidak beragama sekalipun.
Metode Pendahulu, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan akal dan hati (perasaan) dibawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran (dakwah).
Mereka selalu mencari ilmu dulu kepada orang yang dianggap ahlinya dalam ilmu agama yang memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh utusan dari Sesembahan atau pujaannya, semisal Nabi atau Rasul sebelum mereka mengamalkan, mendakwahkan dan bersabar (berpegang teguh) dengan itu semua.
Permasalahan Umum.
Apakah umat Hindu menyembah banyak Tuhan?. Jawabnya tentu tidak. Umat Hindu hanya menyembah satu Tuhan, tetapi dalam implementasi penyebutan nya bermacam-macam, sesuai dengan fungsi, atau manifestasinya, sehingga orang yang mengetahui Hindu dari luarnya saja akan beranggapan demikian.
Dalam Agama Hindu, tepatnya dalam Hinduisme ada beberapa pandangan yang terdiri dari monoteisme, dualisme, panteisme, panenteisme, yang disebut oleh sebagian pakar sebagai teisme monistik, serta monoteisme yang ketat. Namun mereka bukan politeistik, seperti yang dipandang kebanyakan orang luar. Hinduisme seringkali keliru ditafsirkan banyak orang sebagai agama politeistik.
Contohnya adalah pemeluk Hindu sendiri, contohnya kaum Smarta, yang mengikuti filsafat Advaita, adalah monis, dan memahami berbagai manifestasi dari Tuhan yang esa atau sumber keberadaan. Kaum monis Hindu memahami satu keesaan, dengan berbagai pribadi Tuhan, sebagai aspek-aspek yang berbeda dari Yang Maha Tinggi dan Esa, seperti halnya satu pancaran cahaya yang dipisah-pisahkan menjadi berbagai macam warna oleh sebuah prisma, dan semuanya sah untuk disembah. Sebagian dari aspek-aspek Tuhan di dalam agama Hindu mencakup Brahmai, Wisnu,  dan Syiwa, yang dikenal dengan Tri Murti.
Pandangan Smarta inilah yang mendominasi pandangan tentang Hinduisme di Barat. hal ini disebabkan karena Swami Vivekananda, seorang pengikut Ramakrishna, di antara banyak orang lainnya, yang memperkenalkan keyakinan Hindu ke dunia Barat, semuanya adalah penganut Smarta. Aliran-aliran Hinduisme lainnya, seperti yang digambarkan kelak, tidak menganut keyakinan ini secara ketat dan lebih erat berpegang pada persepsi Barat tentang arti keyakinan yang monoteistik. Selain itu, seperti agama-agama Yudeo-Kristen yang percaya akan malaikat, orang Hindu juga percaya akan keberadaan hal demikian.seperti i halnya percaya  para dewa.
Hinduisme kontemporer saat ini dibagi menjadi empat pembagian utama yaitu, Wisnuisme, Syiwaisme, Saktiisme, dan Smartaisme. Seperti halnya Yahudi, Kristen, dan Muslim yang mempercayai satu Tuhan namun berbeda dalam konsep Ketuhanan, semua pengikut agama Hindu percaya pada satu Tuhan namun berbeda dalam konsepnya. Dua bentuk utama dari perbedaan ini adalah antara dua kepercayaan monoteistik dari Wisnuisme yang menganggap Tuhan adalah Wisnu dan Syiwaisme, yang memahami Tuhan sebagai Syiwa. Aspek-aspek Tuhan yang lainnya pada kenyataannya adalah aspek-aspek dari Wisnu atau Syiwa.
Hanya seorang pemeluk Smartaisme tidak akan mengalami masalah untuk menyembah Syiwa atau Wisnu bersama-sama karena ia memandang berbagai aspek dari Tuhan menuntun kepada satu Tuhan yang sama. Pandangan Smartalah yang mendominasi pandangan Hinduisme di Barat. Sebaliknya, seorang pemeluk Wisnuisme menganggap Wisnu sebagau Tuhan satu-satunya yang sejati, yang layak disembah, sementara bentuk-bentuk lainnya adalah penampakan yang lebih rendah. Lihat misalnya, ilustrasi tentang pandangan pemeluk Wisnuisme tentang Wisnu sebagai Tuhan sejati yang esa di sini.
Dengan demikian, banyak pemeluk Wisnuisme, misalnya, percaya bahwa hanya Wisnu lah yang dapat menganugerahkan tujuan terakhir manusia, moksa. Lihat misalnya, di sini. Demikian pula, banyak pemeluk Syiwaisme juga menganut keyakinan yang sama.
BENTUK TOLERANSI 
Pemeluk Wisnuisme, seperti orang-orang Hindu lainnya, mempunyai toleransi terhadap keyakinan-keyakinan yang lain karena Dewa Krisna, avatar Wisnu, mengatakannya demikian di dalam Bhagawad Gita. Beberapa pandangan melukiskan pandangan toleran ini:
Krisna berkata: "Dewa atau bentuk apapun yang disembah seorang percaya, aku akan menguatkan imannya. Namun demikian, hanya Akulah yang mengaruniakan keinginan mereka." (BG: 7:21-22)
Kutipan lain di dalam Gita mengatakan:
 "O Arjuna, bahkan pemeluk-pemeluk yang menyembah tuhan-tuhan lain yang lebih rendah, (mis. dewa-dewa) dengan iman, mereka pun menyembah Aku, tetapi dalam cara yang tidak tepat, karena Akulah yang Maha Tinggi. Hanya akulah yang menikmati semua ibadah kurban (Seva, Yajna) dan Tuhan sarwa sekalian alam." (Gita: 9:23)
Sebuah ayat Weda melukiskan tema toleransi ini. Perlu diketahui bahwa Kitab-kitab Weda dihormati di dalam Hinduisme, apapun juga alirannya. Misalnya, sebuah nyanyian Rig Weda yang terkenal menyatakan bahwa: "Kebenaran hanya Satu, meskipun para bijak mengenalnya dalam berbagai bentuk."
Hal ini berlawanan dengan keyakinan-keyakinan di dalam tradisi-tradisi agama lain, yang mewajibkan pemeluknya mempercayai Allah hanya dalam satu aspek dan menolak sama sekali atau meremehkan keyakinan-keyakinan lainnya.
Monoteisme
Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di dunia.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep ketuhanan, antara lain henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme, politeisme, dan bahkan ateisme. Konsep ketuhanan yang paling banyak dipakai adalah monoteisme (terutama dalam Weda, Agama Hindu Dharma dan Adwaita Wedanta), sedangkan konsep lainnya (ateisme, panteisme, henoteisme, monisme, politeisme) kurang diketahui. Sebenarnya konsep ketuhanan yang jamak tidak diakui oleh umat Hindu pada umumnya karena berdasarkan pengamatan, para sarjana yang meneliti agama Hindu tidak melakukan penelitiannya secara menyeluruh.
Dalam agama Hindu pada umumnya, konsep yang dipakai adalah monoteisme. Konsep tersebut dikenal sebagai filsafat Adwaita Wedanta yang berarti "tak ada duanya". Selayaknya konsep ketuhanan dalam agama monoteistik lainnya, Adwaita Wedanta menganggap bahwa Tuhan merupakan pusat segala kehidupan di alam semesta, dan dalam agama Hindu, Tuhan dikenal dengan sebutan Brahman.
Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman merupakan sesuatu yang tidak berawal namun juga tidak berakhir. Brahman merupakan pencipta sekaligus pelebur alam semesta. Brahman berada di mana-mana dan mengisi seluruh alam semesta. Brahman merupakan asal mula dari segala sesuatu yang ada di dunia. Segala sesuatu yang ada di alam semesta tunduk kepada Brahman tanpa kecuali. Dalam konsep tersebut, posisi para dewa disetarakan dengan malaikat dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri, melainkan dipuji atas jasa-jasanya sebagai perantara Tuhan kepada umatnya.
Filsafat Adwaita Wedanta menganggap tidak ada yang setara dengan Brahman, Sang pencipta alam semesta. Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman hanya ada satu, tidak ada duanya, namun orang-orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama sesuai dengan sifatnya yang maha kuasa. Nama-nama kebesaran Tuhan kemudian diwujudkan ke dalam beragam bentuk Dewa-Dewi, seperti misalnya: Wisnu, Brahma, Siwa, Laksmi, Parwati, Saraswati, dan lain-lain. Dalam Agama Hindu Dharma (khususnya di Bali), konsep Ida Sang Hyang Widhi Wasa merupakan suatu bentuk monoteisme.
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma), berarti "Kebenaran Abadi", dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sekitar 1 miliaran jiwa.
Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa  Majapahit. Mulai saat keruntuhan Majapahit masuklah agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar di pulau Jawa,Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi (Toraja dan Bugis - Sidrap).
Etimologi Hindu
Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta).  Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana.
Keyakinan dalam Hindu
Oleh orang luar, Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk.
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Panca Sradha. PancaSradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:
1.         Widhi Tattwa – sering juga disebut Brahman,  percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
2.      Atma Tattwa –sering disebut Atman, percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
3.        Karmaphala Tattwa - percaya dengansering disebut Karman, percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan
4.      Punarbhava Tattwa –dikenal juga dengan samsara, percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi);
5.      Moksa Tattwa - percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia
Widhi Tattwa
 Omkara. Aksara suci bagi umat Hindu yang melambangkan "Brahman" atau "Tuhan Sang Pencipta". Salah satu bentuk penerapan monoteisme Hindu di Indonesia adalah konsep Padmasana, sebuah tempat sembahyang Hindu untuk memuja Brahman atau "Tuhan Sang Penguasa".
Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di dunia.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep ketuhanan, antara lain henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme, politeisme, dan bahkan ateisme. Konsep ketuhanan yang paling banyak dipakai adalah monoteisme .

Brahman
 Widhi Tattwa merupakan konsep kepercayaan terdapat Tuhan yang Maha Esa dalam pandangan Hinduisme. Agama Hindu yang berlandaskan Dharma menekankan ajarannya kepada umatnya agar meyakini dan mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan dalam kitab Weda, Tuhan diyakini hanya satu namun orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Dalam agama Hindu, Tuhan disebut Brahman. Filsafat tersebut tidak mengakui bahwa dewa-dewi merupakan Tuhan tersendiri atau makhluk yang menyaingi derajat Tuhan.
Dalam salah satu Kitab Hindu yakni Upanishad, konsep yang ditekankan adalah panteisme. Konsep tersebut menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud tertentu maupun tempat tinggal tertentu, melainkan Tuhan berada dan menyatu pada setiap ciptaannya, dan terdapat dalam setiap benda apapun, ibarat garam pada air laut.
Dalam agama Hindu, konsep panteisme disebut dengan istilah Wyapi Wyapaka. Kitab Upanishad dari Agama Hindu mengatakan bahwa Tuhan memenuhi alam semesta tanpa wujud tertentu, beliau tidak berada di surga ataupun di dunia tertinggi namun berada pada setiap ciptaannya.
 Ikhtiar konsep pemahaman Widi Tatwa adalah sebagai berikut
Brahman =è

Widi Tatwa
  Empiris
=Pilosofis
  (Darsana tatwa)
  1. Sebagai awal dan akhir
  2. Fungsional
  3. Tak Terbayangkan
  4. Maha Agung
  5. Menyinari
  6. Gurunya para Guru
  7. Dll.



Trimurti
Acintya

Ciwa
Ciwa Raditya
Maha Guru


Brahma, Wisnu, Ciwa.

Atma Tattwa
Atma tattwa merupakan kepercayaan bahwa terdapat jiwa dalam setiap makhluk hidup. Dalam ajaran Agama Hindu, jiwa yang terdapat dalam makhluk hidup merupakan percikan yang berasal dari Tuhan dan disebut Atman.
Jivatma bersifat abadi, namun karena terpengaruh oleh badan manusia yang bersifat maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut Awidya. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatma mengalami proses reinkarnasi berulang-ulang. Namun proses reinkarnasi tersebut dapat diakhiri apabila Jivatma mencapai moksa.
Konsep Pemahaman Atma Tatwa, adalah  sebagai berikut
Atman


-          Atma dengan Tri Sarira ( Stula, Suksma dan Ananta Karana)
Atman Tatwa





Atma = purusa
           = jiwa


Prakerti




Maya
Kesadaran



Triguna




Ketidak abadian
Berevolusi è Panca Tan Matra + Panca Maha Butha
 Suara èether
Raba è bayu
Warna è sinar
Rasa è air
Bau è pertiwi

Kesadaran menurun didominasi pekerti. Kesadaran yang terbelenggu menjelma menjadi mahluk hidup

Karmaphala
Agama Hindu mengenal hukum sebab-akibat yang disebut Hukum Karma atau Karmaphala (karma = perbuatan; phala = buah/hasil) yang menjadi salah satu keyakinan dasar. Dalam ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil, baik atau buruk.

Ditinjau dari proses waktu berbuat dan menikmati hasil, serta punarbawa maka karmapala dibedakan menjadi :
  1. Prarabda Karmapala, yang berrati bahwa berbuat dan menikmati hasil perbuatan itu pada saat kehidupan yang sama. 
  2. Sancita Karmapala, yang berarti bahwa  berbuat pada saat kehidupan sebelumnnya, hasilnya dinikmati pada kehidupan saat ini’ dan
  3. Kriyamana Karmapala, berarti bahwa hasil perbuatan pada kehidaupan sekarang belum dinikamti pada kehidupan saat ini, namun akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang. 
 Ajaran Karmaphala sangat erat kaitannya dengan keyakinan tentang reinkarnasi, karena dalam ajaran Karmaphala, keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah reinkarnasi).
Punarbhawa
Punarbhawa merupakan keyakinan bahwa manusia mengalami reinkarnasi. Dalam ajaran Punarbhawa, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Apabila manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya.
Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya (baik atau buruk) yang belum sempat dinikmati. Proses reinkarnasi diakhiri apabila seseorang mencapai kesadaran tertinggi (moksa).
Punarbawa  çè
Atman yang meninggalkan badan kasar saat orang itu meninggal, masih terbelenggu suksma dan anantakarana  sebagai unsur prakerti è badan kasar untuk menjelma kembali.






Disini dikatakan masih terikat ikatan duniawi

Moksa
Dalam keyakinan umat Hindu, Moksa merupakan suatu keadaan di mana jiwa merasa sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya karena tidak terikat lagi oleh berbagai macam nafsu maupun benda material. Pada saat mencapai keadaan Moksa, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi menikmati suka-duka di dunia. Oleh karena itu, Moksa menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh umat Hindu.

Konsep pemahaman Moksa sebagai berikut:
Moksa
  1. Terbebasnya purusa dari belenggu prakerti;
  2. Terbebasnya purusa dari samsara;
  3. Tercapainya alam Narayana untuk menikmati kebebasan dan kebahagiaan yang sempurna;
  4. Kembalinya atman kepada asalnya yaitu Brahman, dengan kata lain Bersatu kembalinya atman denganbrahman
Samkhya
Dwaita Wedanta
Wisista Wedanta

Adwaita Wedanta

Jalan menuju moksa :
1.       Jalan Prajapati (1) Jnana Marga; (2) Karma Marga, dan (3) Bakti Marga
2.       Jalan Yoga
Kesemuanya biasa juga disebutkan sebagai Catur Marga


Renungan :
1.     Hindu merupakan agama monoteisme;
2.     Hindu mempuyai keimanan yang disebut Panca Crada;
3.     Kelima Keyakinan tersebut tidak berdisi sendiri, namun satu sama lainnya saling berkaitan.
4.     Sesi ini diselesaikan dalam dua kali pertemuan.
Daftar Bacaan :
1.     Wikipedia Indonesia;
2.     Upadesa
3.     Bagawadgita
4.     Kajeng, I Nyoman, Sarasamuscaya,Hanuman Sakti,..... , 1994.

Minggu, 22 April 2012


“SERIAN GEMPABUMI SITUBONDO JENIS SWARM”

Situbondo, daerah Kabupaten di Pantai Utara Jawa Timur belakangan ini rama karena daerahnya sering merasakan guncangan gempabumi yang cukup kuat, disertai dengan suara dentuman, maupun suara bergemueuh. Kejadian ini mengingatkan kita pada peristiwa yang sama yang menimpa daerah lain di Jaea Timur, yaitu daerah Ponorogo, dengan kejadian yang hampir sama. Masyarakat sering merasakan goncangan gempabumi diiringi oleh suara berdentum, atau suara gemuruh.

Gempabumi sedemikian rupa juga pernah menimpa beberapa daerah lain seperti daerah sekitar Gunung Lawu pada tahun 1979, daerah Lampung tahun 2009. Suara yang mengiringi kejadian gempabumi membuat takut masyarakat setempat, padahal dari catatan alat pencatat gempabumi –seismograph- yang dipasang di lokasi menunjukkan gempabuminya tergolong kecil sekitar 2 – 3 Skala Richter, namun goncangannya yang cukup kuat disertai dentuman ataupun suara gemuruh membuat ciut nyali masyarakat sekitarnya.

Pada semua kejadian tersebut , walau beberapa diantara gempanya menyebabkan kerusakan, namun secara kronologis tidak menunjukkan adanya gempabumi utama, yang umumnya merupakan gempa dengan kekuatan nyang menonjol dibandingkan dengan gempa lainnya. Serian gempa yang demikian oleh K Mogi, dikategorikan menjadi gempa swarm, yaitu gempabumi tipe III, dalam pengelompokannya yang merupakan serian gempabumi yang tidak mempunyai gempa utama. Terjadi pada batuan yang sangat tidak homogin, baik dalam umur maupun jenis batuannya.

Gempa lainnya adalah gempabumi tipe I , yang merupakan serangkaian gempabumi, yang hanya terdiri dari gempa utama dan gempa susulan, tidak didahului oleh gempa pendahuluan, biasa terjadi di daerah yang batuannya sangat solid dan homogin. Sedangkan gempabumi tipe II, merupakan serian gempabumi yang lengkap, terdiri daeri gempa utama, yang didahului oleh gempabumi pendahuluan, dan diikuti dengan gempa susulan. Tipe gempabumi ini terjadi di daerah yang batuannya mendekati homogin, yang merupakan tipe gempa bumi yang umum terjadi. Tipe ini memberikan harapan akan dapat diprediksinya gempabumi dikemudian hari.

Kembali ke Gempabumi Situbonda, yang terjadi selama April 2012 ini seperti yang diungkapkan oleh Kepala BMKG Tretes, Benny Sipollo, merupakan gempabumi jenis swarm. Karena kekuatannya sangat kecil sekitar 2,7 an  Skala Richter. Suara dentuman yang terjadi menunjukkan bahwa adanya peristiwa meledaknya batuan karena adanya desakan, atau longsoran ataupun jatuan batuhan yang terjadi dalam goa atau doom, kalau itu terkait dengan aktivitas gunung api, seperti yang terjadi di Gunung Lawu 1979 sebagai dampak runtuhnya batuan pada dinding kawah yang sudah kosong. Hal ini dapat pula terjadi karena meledaknya batuan kapur karena adanya proses kimiawi saat kapur terinvasi air. Akan tetapi proses ini jarang terjadi di Indonesia. Proses gempabumi Situbondo, boleh jadi karena : adanya runtuhan batuan dalam goa yang tidak kasat mata dari permukaan.

Aktivitas gempabumi yang terjadi kali ini, menunjukkan eksistensi Situbondo sebagai daerah yang berpotensi gempabumi, walau gempa yang sifatnya sangat lokal, karena hanya dicatat oleh alat yang dipasang di dekat lokasi, dan tidak terdeteksi oleh jaringan gempabimi secara nasional. Gempabumi yang cukup kuat , bersifat lokal juga pernah terjadi September 2007 yang menimpa Kecamatan Asem Bagus, Jangkar dan Banyu Putih.

Penerangan kepada masyarakat akan jenis, proses, maupun memonitor secara langsung aktivitas gempabumi Situbondo merupakan langkah yang wajib dilakukan sebagai sosialisasi akan peristiwa alam ini, terlebih di daerah ini sudah sering terjadi kejadian serupa.
============================================== Jakarta, 23 April 2012========

Jumat, 06 April 2012

SASIH KASA


Sasih Kasa merupakan bagian musim kemarau, dimana kering tak bisa dibendung, air sumur kian menurun. Karenanya, manusia diingatkan senantiasa sadar memelihara sumber daya alam, merawat sumber-sumber air, menanam pohon-pohon kembali.

Merupakan sasih pertama dari 12 sasih yang ada dalam kalender Jawa-Bali. Seperti biasa tak ada pertanda yang mencolok bisa dicatat dari siklus edar sasih ini. Hanya saja curah hujan mengecil karena  kian jarang turun. Periode sasih kasa ini adalah 22 Juni – 1 Agustus, dengan rentang 41 hari.

Kemarau kian menguat, matahari sudah condong ke utara, daun-daun mulai berguguran dan bukit-bukit berlahan menjadi kerontang. Udara kian terasa pengap, bila siang panas mulai menyengat, dan dinihari mulai terasa lebih dingin. Pada saat ini petani disarankan untuk mulai mebakar jerami, menanam pala wija.

Periode sasih kasa berbeda dengan dua sasih sebelumnya yang dilewati, yang sering dianggap sasih kurang membawa peruntungan atau sasih-sasih yang dianggap "mala", yaitu Jestha dan Sadha, rutinitas upacara berskala besar segera dipersiapkan. Matahari tengah "bergerak" ke lintang utara, sering disebut utarayana.  Kini saat bagus menggelar upacara pitra yadnya dan dewa yajna.

Masyarakat Bali percaya saat matahari mulai "bergerak" ke utara merupakan saat baik melaksanakan upacara ayu. Sama dengan pilihan matinya Bisma Putra Gangga, yaitu pilihan dimana di lintang utara sedang musim panas sehingga lembangh-kembang sudah bermejaran.

Karena pengaruh atmosfir sasih, maka umumnya anak-anak yang lahir di periode sasih Kasa mudah terserang batuk, sakit perut, dan lever. Kesehatan sangat rentan, tidak kuat dengan perubahan musim. Untuk itu bagi orang tua atau pasangan yang mempunyai bayi lahir pada sasih kasa ini perlu waspada kesehatan putra/purinya.

Sebagaimana siklus edarnya, sasih Kasa berakhir pada tanggal 1 Agustus, tepat pada tilem Kasa. Pada saat itu musim kering tak bisa dibendung, cadangan air mulai seret. Air sumur kian menurun. Justru itu, manusia diingatkan senantiasa sadar memelihara sumber daya alam, merawat sumber-sumber air, menanam pohon-pohon kembali, dan memelihara lingkungan.

Menurut astrologi Bali, maka bayi yang lahir pada sasih Kasa, kelak jika berhasil mendidiknya dia akan menjadi pribadi simpatik. Rendah hati, lembut dalam tutur kata, berpikiran jernih, jujur dan tak punya niat menyakiti sesama. Bila ia menuruti kehendak budinya, percaya pada kata hatinya, nisacaya ia akan menjadi orang besar tempat berlindung banyak orang. Paling tidak ini ramalan sasih Kasa.

Tetapi jangan lupa pula bahwa kita umat Hindu percaya dengan Hukum Karma dimana garis hidup dan nasib ditentukan oleh karma dan budi baik, pada kehidupan sebelumnya maupun pada kehidupan yang sedang dijalani.
 -------------------------------------------Puri Gading, Jimbaran, Purnama Kedasa

Jumat, 23 Maret 2012

MARI MEMANDANG NYEPI DARI SALAH SATU SUDUT PANDANG Oleh : I Putu Pudja

Nyepi sebagai Bentuk Implementasi Tri Hita Karana
Nyepi, bukanlah suatu rutinitas yang datangnya setahun sekali. Nyepi merupakan kontemplasi jiwa, di keheningan menuju pencerahan, menyongsing kasih karunia Ida Sang Hyang Widhi.  Sebagai pelatihan untuk selalu menuju yang esa, Manunggaling Kawula Lan Gusti, sebagai tujuan hidup manusia yang paling luhur.
Nyepi mengandung makna, perbaikan keseimbangan hidup. Menyeimbangkan hubungan yang serasi kepada Ida Sang Hyang Widhi, menyeimbangkan hubungan serasi sesame manusia, serta menyeimbangkan diri dengan alam lingkungan, sebagai perwujudan dan implementasi bahwa Ida Sang Hyang Widi merakhmati se,ua ciptaannya, sehingga kita manusia wajib pula melakukan hal itu.
Proses ini oleh masyarakat Bali disebut Tri Hita Karana. Semua proses ini terlihat pada prosesi Nyepi, yang diawali dengan melasti sebagai sarana pembersihan diri dan alam semesta secara spiritual, butta yadnya pengerupukan dengan mecaru sebagai perwujudan keseimbangan dan keselarasan hidup manusia dengan lingkungan, alam itu sendiri,  catur brata penyepian sebagai sarana mawas diri terhadap apa yang telah diolakukan minimal setahun terakhir, menyatukan diri dan ‘nunas’ berkah dan karunia Ida Sang Hyang Widi di hari yang baik ini.
Nyepi berarti kembali ke kosong, agrometer nol dalam kesucian lahir bathin. Kosong sebagai asal mula alam dunia ini sebagai sunya, sunyi, sunia. Sebagai makna dari ekawara ngaran luwang. Dan proses terakhir adalah ngembak geni sebagai proses penyelarasan diri dengan sesame umat, karena secara sadar dalam kehidupan ini setiap orang pasti pernah berbuat salah terhadap yang lainnya, sehingga perlu saling memaafkan. 
Semua ini berdasarkan keikhlasan, dimana rumusan sederhana Ilmu Ikhlas itu sebagai berikut :
Ikhlas + Ikhlas = Berkah ,
yang dapat kita terjemahhkan dalam hubungan hidup sebagai keokhlasan yang member, keikhlasan yang menerima, astungkara akan menjadi berkah untuk keduanya. Hendaknya demikian pula dalam kita membangun kontempelasi keseimbangan hidup yang memaknai Tri Hita Karana.
Makna Catur Brata
Dalam melaksanakan nyepi, kita melakukan catur brata penyepian, yaitu : Mati Geni, Mati Karya, Mati Lelanguan, dan Mati Lelungaan. Disini mati berarti terminal, diam, tidak. Mati Geni tidak menyalakan api, merupakan simbul penciptaan kesunyian, kesiap siagaan, sehingga kita dapat berada pada suasana hening, senyap dengan minilam sinar (api), mati geni juga berarti tidak memasak, yang berarti nyepi perlu persiapan, minimal persiapan makanan sehari sebelumnya, menyiapkan makanan yang tidak basi untuk sehari dan tidak memerlikan pemanasan. Ingat bahwa pada awaknya nyepi tidak disertai frngan puasa. Baru belakangan ini setelah banyak paka pakar agama lulusan India yang mengamalkan ilmunya di tanah air. Sehingga mati geni bermakna luas, keheningan, kesunyian, oersiapan hingga pengekangan hawa napsu yang juga berarti unsure api dalam diri.
Mati karya, berarti : tidak melakukan pekerjaan sehari penuh pada sat hari nyepi. Tujuannya agar kita dapat melakukan kontempelasi diri dengan baik, tidak diganggu dengan pekerjaan rutin sehari-hari. JUga merupakan kesempatan untuk bersama sama melakukan kontempelasi berjamaah di dalam rumah bersama keluarga. Menyatukan diri dengan diri sendiri – atma- , Ida Sang Hyang Widi, serta dengan alam semesta yang sangat kelelahan telah menyapkan manusia bahan kehidupan.
Agas kedua Mati tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka kita sangat mengurangi kegiatan yang mengganggu kontempelasi, sehingga tidak melakukan kegiatan yang jauh dari rumah, sehingga kita todak bisa bepergia, sebagai wujud mati lelungaan. Demikian pula tidak banyak waktu untuk melakukan perawatan diri, bersolek, sehingga wangi, sebagai wujud dari mati lelanguan. Jadi kita diharapkan dapat mengoptimalkan kelima indera kita merenungkan, meikmati keheningan nyepi, tidak terganggu oleh wewangian –lelanguan-, yang dapat mengganggu konsentrai kita melakukan nyepi.
Recovery kualitas udara dan nilai ekonomis.
Dari segi perubahan iklim dan pemansasn global, pemberhentian kegiatan sehari semua kendaraan, tidak menyalakan api, tidak bepergian, maupun tidak melakukan kerja, merupakan saat yang tepat untuk mengistirahatkan atmosfer kita menyerap polutan, sehingga dalam sehari apalagi saat musim hujan Maret, nyepi sangat membantu mengendapkan polutanh yang mengambang di udara, kualitas udara menjadi terbarujan, sehingg tak salah bila beberapa facebooker mengatakan saat nyepi bernafaslah panjang-panjang karena udara bersih, recoveri polutan dalam paru-paru dengan udara bersih.
Nyepi disini dapat berfungsi sebagai recovery udara di atmosfer, walau hanya sehari. Sebagai konsep menjaga keseimbangan antara umat manusia dengan alam semesta, dengan menyadari manusia dan alam semesta ini bersama-sama sebagai ciptaan TUhan, Ida Sang Hyang Widhi yang terus menerima rakhmatnya.
Dari segi ekonomis, bisa dihitung berapa biaya yang dihemat saat nyepi dengan tidak adanya kendaraan bermotor, pabrik dll yang berhenti mengkonsumsi bahan bakar minyak –BBM-, sehingga tidak lah salah bila Bupati (Badung) saat COP-UNFCC di bali mengusulkan kalau konsep nyepi dapat diadopsi untuk dilakukan secara universal untuk ikut mengendalikan polusi. Minimal memberikan bumi dan atmosfer ini beristirahat untuk menyerap polutan dan gas rumah kaca, sehingga secara rutin dapat menyedarkan umat manusia untuk selalu mengendalikan lingkungannya, termasuk pemanasan global dan perubahan iklim. Ternyata Nyepi memiliki makna yang melampaui konsep awalnya, dalam melestarikan alam, mengendalikan pencemaran sehingga konse[ awa; sebagai saat kembali ke sunyi, tetap abadi sepanjang masa.
“SELAMAT HARI RAYA NYEPI CAKA WARSA 1934”

Rabu, 14 Maret 2012

Analisa Perbandingan Anomali Gravitasi dengan Persebaran Intrusi Air Asin (Studi Kasus Jakarta 2006-2007)


Litanya Octonovrilna dan I Putu Pudja
Abstrak
Aplikasi pada bidang geofisika, berupa pengukuran gravitasi dilakukan di lapangan dalam jangka waktu tertentu, dengan tujuan untuk mendeteksi perubahan kondisi bawah permukaan bumi. Dalam hal ini dilakukan pengukuran gravitasi di wilayah Jakarta untuk mendeteksi perubahan kondisi hidrologi Jakarta dalam kaitannya dengan fenomena intrusi air asin. Secara geografis daerah penelitian berada pada -6.35158 s.d -6.08655 LS dan 106.689 s.d. 106.955 BT. Pengolahan data gravitasi wilayah Jakarta dilakukan dalam 2 periode, yaitu periode I (September 2006) dan periode II (November Desember 2007). Anomali gravitasi tertinggi terdapat pada bagian pusat dan barat Jakarta ini mengindikasikan terjadinya fenomena subsidensi dan kekosongan massa akibat eksploitasi air tanah serta tekanan dari sejumlah gedung tinggi yang berpusat pada daerah tersebut. Anomali gravitasi terendah terdapat di bagian barat laut Jakarta yang bersesuaian konsentrasi nilai kepayauan tertinggi, mengindikasikan adanya intrusi air asin yang diakibatkan oleh adanya fenomena Conate water yang menyusup pada aquifer air tanah akibat eksplotasi air tanah berlebih. Hubungan pola aliran sungai dengan nilai kepayauan air, membuktikan adanya pengaruh sungai aquifer air tanah, namun dampaknya tidak terlalu berpengaruh terlebih pada aquifer dalam.
Kata kunci : anomali gravitasi, hidrologi Jakarta, intrusi

Studi Awal Hubungan Gempa Laut dan Gempa Darat Sumatera dan Sekitarnya


Listya Dewi Rifai dan I Putu Pudja

Abstrak

Secara umum, wilayah Sumatera di bagi menjadi dua sumber gempa tektonik, yaitu pada zona subduksi di sepanjang laut dan pada zona-zona sepanjang patahan sistem sesar Sumatera di daratan. Sebagai studi awal untuk melihat interaksi antara kejadian gempa pada kedua daerah tersebut, maka dilakukan pendekatan dengan menganalisa gempa berdasarkan P-axis fokal mekanisme, rentang waktu kejadian, dan jarak dengan mengambil sampel dari data sejumlah gempabumi dirasakan yang pernah terjadi di laut dan di daratan pulau Sumatera selama tahun 2007 sampai 2009. Setelah dilakukan analisa P-axis dari hasil plot fokal mekanisme, jarak, dan selang waktu kejadian, diindikasikan bahwa kejadian gempa di laut mentrigger terjadinya gempa di darat. Didapatkan bahwa sebelum gempa darat 19 Juni 2008 dan 01 Oktober 2009, sejumlah gempa-gempa di lautnya memiliki kelurusan arah P-axis cenderung terhadap gempa di daratan.
Kata kunci : P-axis, gempa laut, gempa darat

Abstract

Generally, Sumatera devided by 2 resources of tectonic earthquake, consist of subduction zone along the sea and subduction along fracture at Sumatera fault system in the land. As the begining study for observe interaction of earthquake from both of earthquake zone, do approximate to analyse the earthquake according P-axis of focal mechanism, stretches of time, and distance with take sample from a number of felt earthquake data that occur in the sea and the land of Sumatera at 2007 - 2009. After analyse P-axis from result of focal mechanism plot, distance, and time range, indicated that earthquake occur in the sea trigger earthquake occur in the land. We found that before earthquake 19 Juny 2008 and 1 October 2009, a number of earthquake in the sea have P-axis direction inclined turned to earthquake in the land.
Keywords : P-axis, earthquake in the sea, earthquake in the land